Ketua DPRD Kukar Ahmad Yani mengajak masyarakat memaknai Belimbur Erau 2026 sebagai simbol kedamaian, rasa syukur, kebersamaan, dan pembersihan diri sekaligus mengingatkan warga menjaga ketertiban selama prosesi.
KUTAI KARTANEGARA – Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kutai Kartanegara (Kukar) Ahmad Yani mengajak masyarakat memaknai tradisi Belimbur dalam Erau Adat Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura 2026 sebagai momentum menjaga kedamaian, berbagi kebahagiaan, dan mensyukuri kehidupan.
Pesan tersebut disampaikan Ahmad Yani seusai mengikuti Belimbur Beras dalam rangkaian Bepelas malam keenam di Keraton/Museum Mulawarman, Tenggarong, Sabtu (26/09/2026) malam. Prosesi itu turut diikuti Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura bersama unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Kukar dengan menghamburkan beras sebagai bagian dari tradisi adat.
Ahmad Yani mengatakan, Belimbur Beras memiliki makna kedamaian dan kebahagiaan. Tradisi tersebut juga menjadi momentum untuk mensyukuri apa yang telah diperoleh sekaligus mengingatkan masyarakat tentang pentingnya berbagi kepada sesama.
“Saya lihat tadi yang hadir semuanya bergembira. Tidak ada yang sedih. Semuanya, termasuk saya sendiri, ikut menghamburkan beras. Artinya, itu adalah tanda kedamaian, tanda kebahagiaan,” kata Ahmad Yani.
Menurutnya, semangat berbagi yang terkandung dalam tradisi tersebut juga relevan dengan kehidupan sehari-hari. Setiap hal yang diperoleh dan dinikmati, kata dia, perlu disyukuri sekaligus menjadi pengingat untuk peduli kepada sesama.
“Apapun yang kita makan juga harus berbagi. Kita syukuri apa yang kita dapatkan saat ini,” ujarnya.
Selain memaknai Belimbur Beras, Ahmad Yani menyampaikan pesan kepada masyarakat menjelang pelaksanaan tradisi Belimbur menggunakan air dalam rangkaian Erau 2026. Ia meminta masyarakat mengikuti prosesi dengan tertib serta tidak menggunakan air yang kotor.
“Kalau Belimbur itu kita harap masyarakat menggunakan air. Silakan saling menyiram, saling membasahi, tetapi tertib dan teratur. Jangan coba-coba pakai air kotor,” katanya.
Ahmad Yani juga mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan tindakan yang dapat membahayakan orang lain selama berlangsungnya Belimbur, termasuk melempar benda maupun melakukan tindakan anarkis.
Menurutnya, penggunaan air dalam tradisi Belimbur memiliki makna simbolis sebagai sarana membersihkan diri sekaligus mengingatkan bahwa air merupakan salah satu sumber utama kehidupan.
“Air fungsinya untuk membersihkan. Kita harap maknanya adalah mari kita membersihkan diri, mari kita mandi, mari kita wudu, dan menjadikan air sebagai sumber kehidupan,” pungkasnya.
Melalui pelaksanaan Belimbur yang tertib dan aman, masyarakat diharapkan tidak hanya merasakan kemeriahan Erau 2026, tetapi juga memahami nilai kedamaian, kebersamaan, rasa syukur, dan penghormatan terhadap tradisi yang terkandung dalam prosesi tersebut. [] (ADV)
Penulis: M. Reza Danuarta | Penyunting: Nursiah
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan