Impor Kalsel Naik Tajam, Kotabaru Sumbang US$110,80 Juta

Nilai impor Kalsel pada Agustus 2026 melonjak 74,61 persen secara bulanan menjadi US$144,85 juta, dengan bahan bakar mineral menyumbang 87,98 persen dan Pelabuhan Kotabaru menjadi pintu masuk terbesar.

BANJARBARU – Nilai impor Kalimantan Selatan (Kalsel) melonjak 74,61 persen secara bulanan pada Agustus 2026 menjadi US$144,85 juta dari US$82,96 juta pada Juli 2026. Lonjakan tersebut terutama ditopang komoditas bahan bakar mineral yang mencapai US$127,44 juta atau 87,98 persen dari total impor Kalsel pada periode tersebut.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) Kalsel menunjukkan peningkatan impor tidak hanya terjadi secara bulanan. Jika dibandingkan dengan Agustus 2025 yang mencapai US$114,19 juta, nilai impor Agustus 2026 juga meningkat 26,85 persen. Sebaliknya, dari sisi ekspor, nilai perdagangan luar negeri Kalsel pada Agustus 2026 mencapai US$1.071,98 juta atau turun 1,49 persen dibandingkan Juli 2026 yang sebesar US$1.088,20 juta.

“Nilai impor Kalimantan Selatan pada Agustus 2026 mencapai US$144,85 juta. Nilai ini meningkat sebesar 74,61 persen dibandingkan Juli 2026 yang sebesar US$82,96 juta. Namun, jika dibandingkan dengan nilai impor Agustus 2025 yang mencapai US$114,19 juta, maka nilai impor Agustus 2026 mengalami peningkatan sebesar 26,85 persen,” kata Hanief.

Struktur impor tersebut menunjukkan ketergantungan yang sangat besar pada kelompok bahan bakar mineral dengan kode Harmonized System (HS) 27. Nilainya mencapai US$127,44 juta dan menyumbang 87,98 persen dari keseluruhan impor Agustus.

Komoditas dengan nilai impor terbesar berikutnya adalah kapal, perahu, dan struktur terapung (HS 89) sebesar US$5,07 juta atau 3,50 persen. Kemudian reaktor nuklir, ketel, mesin, dan peralatan mekanis serta bagiannya (HS 84) sebesar US$4,30 juta atau 2,97 persen.

Sementara itu, kelompok perabotan, keperluan tidur, kasur, alas kasur, bantalan kursi, dan perabotan semisalnya (HS 94) tercatat US$3,55 juta atau 2,45 persen. Kelompok bahan kimia organik (HS 29) berada berikutnya dengan nilai US$1,50 juta atau 1,03 persen dari total impor.

Dari sisi pintu masuk, Pelabuhan Kotabaru menjadi lokasi dengan nilai impor terbesar selama Agustus 2026. Hanief menjelaskan, struktur tersebut memperlihatkan konsentrasi aktivitas impor pada sejumlah pelabuhan utama di wilayah Kalsel, sebagaimana diberitakan Media Center Kalsel, Kamis, (01/10/2026).

“Impor Kalimantan Selatan pada Agustus 2026 menurut pelabuhan menunjukkan bahwa nilai impor tertinggi berasal dari Pelabuhan Kotabaru sebesar US$110,80 juta, kemudian diikuti oleh Pelabuhan Banjarmasin sebesar US$22,32 juta, serta Pelabuhan Batulicin sebesar US$11,68 juta. Selanjutnya, impor melalui Pelabuhan Balikpapan / Sepinggan (U) tercatat sebesar US$0,03 juta, dan Pelabuhan Banjar Masin / Samsudin Noor (U) sebesar US$0,01 juta,” ujar Hanief.

Sementara itu, kinerja ekspor Kalsel pada Agustus 2026 masih mencatat pertumbuhan tahunan 12,05 persen dibandingkan Agustus 2025. Namun, secara bulanan nilainya terkoreksi 1,49 persen.

Komoditas bahan bakar mineral (HS 27) tetap menjadi penopang utama ekspor dengan nilai US$876,94 juta atau 81,81 persen dari total ekspor. Angka tersebut turun 4,16 persen dibandingkan Juli 2026 yang mencapai US$915,01 juta.

Kelompok lemak dan minyak hewani/nabati (HS 15) menempati posisi kedua dengan nilai ekspor US$143,38 juta atau 13,38 persen. Nilainya justru meningkat 12,60 persen dibandingkan Juli 2026 yang sebesar US$127,33 juta.

Struktur perdagangan luar negeri tersebut menunjukkan aktivitas ekspor Kalsel masih didominasi bahan bakar mineral, sementara pada sisi impor komoditas yang sama juga menjadi penyumbang terbesar. Perkembangan selanjutnya akan memperlihatkan perubahan nilai perdagangan luar negeri Kalsel pada bulan-bulan berikutnya. []

Redaksi 03

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *