Arab Saudi mengubah pendekatan geopolitiknya dengan mendorong deeskalasi konflik demi mencegah gangguan jalur distribusi minyak dunia.
RIYADH – Kekhawatiran terhadap potensi lumpuhnya jalur distribusi minyak global mendorong Arab Saudi mengubah pendekatan strategisnya dengan mendesak Amerika Serikat (AS) untuk meredakan tekanan terhadap Iran, menyusul ancaman eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah.
Langkah tersebut disampaikan oleh Putra Mahkota Arab Saudi, Mohammed bin Salman, yang dilaporkan meminta Amerika Serikat mencabut blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran di Selat Hormuz demi mencegah dampak lebih luas terhadap ekonomi kawasan, khususnya risiko penutupan jalur Laut Merah oleh pihak yang berafiliasi dengan Teheran.
Berdasarkan laporan media Inggris The Telegraph, yang mengutip diplomat Teluk, dorongan tersebut juga disertai permintaan agar Washington menahan eskalasi konflik dan kembali membuka jalur negosiasi dengan Iran. Kekhawatiran utama Riyadh adalah kemungkinan Iran mengaktifkan kelompok Houthi di Yaman untuk menutup Selat Bab al-Mandeb, jalur vital pengiriman minyak dunia.
Tekanan ini muncul di tengah meningkatnya ketidakpastian regional terhadap kebijakan Presiden AS, Donald Trump, dalam menangani konflik yang melibatkan Iran dan Israel. Para diplomat menyebut perubahan sikap Arab Saudi mencerminkan kekhawatiran mendalam terhadap dampak ekonomi jika jalur distribusi energi terganggu.
Sebelumnya, Arab Saudi termasuk negara yang cenderung mendukung pendekatan keras terhadap Iran. Namun, dinamika terbaru menunjukkan pergeseran ke arah kehati-hatian, terutama setelah ancaman Iran untuk memperluas blokade ke Laut Merah dan perairan strategis lainnya.
Secara geografis, Arab Saudi memiliki keunggulan dengan dua jalur ekspor minyak melalui Teluk Persia dan Laut Merah. Setelah penutupan Selat Hormuz, ekspor minyak dialihkan dari Ras Tanura ke Yanbu melalui pipa lintas wilayah. Langkah ini memungkinkan ekspor tetap mendekati 7 juta barel per hari dan menahan tekanan ekonomi domestik.
Namun, ketahanan tersebut dinilai rapuh. Jika kelompok Houthi kembali melancarkan serangan terhadap kapal komersial di Laut Merah atau menguasai Selat Bab al-Mandeb yang dikenal sebagai “Gerbang Air Mata”, distribusi minyak Arab Saudi berpotensi terganggu serius dan memicu gejolak pasar energi global.
Catatan sebelumnya menunjukkan kelompok Houthi telah melakukan ratusan serangan terhadap kapal dagang sejak 2023, yang menyebabkan penurunan signifikan lalu lintas di Laut Merah. Meski kekuatan mereka disebut melemah akibat serangan udara AS dan sekutunya, sejumlah analis menilai kemampuan gangguan maritim masih dimiliki.
Perwakilan Dewan Transisi Selatan atau Southern Transitional Council (STC), Amr al-Bidh, bahkan menilai kondisi saat ini membuka peluang lebih besar bagi Houthi untuk kembali melancarkan serangan. “Kondisi untuk melanjutkan serangan terhadap kapal sekarang lebih permisif daripada kapan pun sejak tahun 2023.” “Arsitektur pasukan darat yang sebelumnya membatasi operasi pesisir mereka telah dihapus. Jika mereka bertindak, kemampuan untuk merespons dari dalam Yaman sama sekali tidak ada seperti sebelumnya,” ujarnya, sebagaimana diberitakan Sindo News, Kamis (16/04/2026).
Situasi ini menempatkan Arab Saudi pada dilema strategis antara mempertahankan tekanan terhadap Iran atau menghindari risiko kerugian ekonomi yang lebih besar. Ke depan, arah kebijakan Riyadh diperkirakan akan semakin pragmatis dengan mengutamakan stabilitas kawasan dan keberlanjutan distribusi energi global. []
Redaksi1
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan