BBM Non-Subsidi Naik, Solar Eceran Ikut Melonjak dan Langka

Kenaikan BBM non-subsidi memicu lonjakan harga dan kelangkaan solar di tingkat eceran, membuat pedagang kecil di Banjarbaru tertekan.

BANJARBARU – Pedagang bahan bakar minyak (BBM) eceran di Kota Banjarbaru, Kalimantan Selatan (Kalsel), mulai menghadapi tekanan ganda akibat kenaikan harga BBM non-subsidi yang berdampak pada pasokan dan harga jual di tingkat bawah, termasuk solar yang kini semakin sulit diperoleh.

Kenaikan harga BBM non-subsidi seperti Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina Dex yang diberlakukan sejak Sabtu 18 April 2026 memicu efek berantai di tingkat distribusi. Di lapangan, pedagang eceran mengaku tidak hanya terdampak pada harga, tetapi juga ketersediaan barang yang semakin terbatas.

Salah satu pedagang BBM eceran di kawasan Jalan Sungai Ulin, Udin, mengungkapkan bahwa kondisi tersebut memaksanya menyesuaikan harga jual solar karena pasokan dari pemasok ikut mengalami kenaikan.

“Saya terpaksa menaikkan harga solar jadi Rp15.000 per liter, padahal sebelumnya cuma Rp12.500. Soalnya harga dari pemasok juga ikut naik setelah kebijakan pemerintah itu,” jelasnya, Minggu (19/04/2026).

Selain kenaikan harga, persoalan distribusi juga menjadi kendala utama. Udin menyebut pasokan solar tidak selalu tersedia setiap hari, sehingga ia harus mengambil keputusan cepat saat ada penawaran dari pihak tertentu.

“Solar sekarang susah dicari. Jadi kalau ada yang menawarkan, langsung saya beli,” tambahnya.

Dalam operasional sehari-hari, kios milik Udin mampu menjual sekitar 100 liter solar per hari. Sementara untuk jenis BBM lain seperti Pertalite dan Pertamax, penjualannya relatif lebih kecil, yakni sekitar 20 liter per hari dengan harga masing-masing masih berada di kisaran Rp12.000 dan Rp15.000 per liter.

Kekhawatiran serupa juga disampaikan pedagang lainnya, Faizah, yang tidak menjual solar. Ia mengaku cemas jika tren kenaikan harga terus berlanjut dan merembet ke jenis BBM lainnya.

“Semoga jangan sampai naik lagi. Kalau naik, kami sebagai penjual pasti makin pusing, apalagi masyarakat yang membeli,” ujarnya, sebagaimana diberitakan Banjarmasinpost, Minggu (19/04/2026).

Kondisi ini menunjukkan bahwa kebijakan harga di tingkat hulu memiliki dampak langsung terhadap rantai distribusi hingga ke pedagang kecil dan masyarakat sebagai konsumen akhir. Jika tren kenaikan berlanjut, dikhawatirkan akan memicu tekanan ekonomi yang lebih luas, terutama bagi sektor informal yang bergantung pada stabilitas harga energi. []

Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com