DPRD Balikpapan mendorong langkah cepat menghadapi potensi kemarau panjang akibat El Nino, terutama untuk menjaga ketahanan pangan dan ketersediaan air bersih.
BALIKPAPAN – Ancaman fenomena El Nino mulai diantisipasi serius di Kota Balikpapan. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Balikpapan menekankan pentingnya langkah cepat dan terukur untuk menjaga ketahanan pangan serta memastikan ketersediaan air bersih di tengah potensi kemarau panjang dan cuaca ekstrem.
Wakil Ketua DPRD Kota Balikpapan Budiono menyatakan, kesiapsiagaan menjadi kunci utama agar dampak El Nino tidak berkembang menjadi krisis, terutama pada sektor pangan dan air bersih yang paling rentan terdampak.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan fenomena El Nino mulai berkembang pada pertengahan tahun 2026 dan berpotensi mencapai puncaknya pada Agustus hingga Oktober. Kondisi tersebut dapat memicu musim kemarau yang lebih panjang dan kering di sejumlah wilayah Indonesia, termasuk Kalimantan.
Budiono menjelaskan, upaya antisipasi juga diperkuat melalui kegiatan workshop internal Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) yang diikuti unsur eksekutif, kepala daerah, hingga legislatif secara nasional guna menyamakan langkah menghadapi perubahan musim.
“Melalui workshop internal itu, kami mendorong seluruh elemen untuk turun langsung ke masyarakat, terutama dalam memperkuat ketahanan pangan,” ujarnya, Selasa (21/04/2026) di Gedung DPRD.
Ia menegaskan, salah satu langkah strategis yang perlu dilakukan adalah diversifikasi pangan dengan mengembangkan bahan pokok alternatif selain beras, seperti jagung, porang, dan komoditas lainnya. Upaya ini dinilai penting agar masyarakat tidak sepenuhnya bergantung pada satu sumber pangan utama saat produksi terganggu akibat perubahan iklim.
“Harapannya, ketika El Nino terjadi, masyarakat sudah memiliki alternatif bahan pangan, tidak hanya bergantung pada beras,” tambahnya.
Selain sektor pangan, Budiono juga menyoroti persoalan ketersediaan air bersih yang hingga kini masih menjadi tantangan di Balikpapan. Ia mengapresiasi langkah Pemerintah Kota (Pemkot) Balikpapan yang mulai melakukan peringatan dini dalam menghadapi potensi cuaca ekstrem.
Menurutnya, keterbatasan sumber bahan baku air masih menjadi kendala utama. Sejumlah waduk seperti Manggar dan Teritip belum mampu memenuhi kebutuhan masyarakat secara optimal. “Pasokan air kita memang masih terbatas. Ke depan, pemerintah kota perlu menambah sumber bahan baku agar kebutuhan masyarakat bisa terpenuhi,” jelasnya.
Pemkot Balikpapan juga berencana meningkatkan cakupan layanan air bersih melalui penambahan sambungan rumah (SR). Namun, Budiono mengingatkan bahwa peningkatan tersebut harus diiringi dengan ketersediaan sumber air yang memadai.
Ia juga membuka peluang kerja sama antarwilayah untuk menambah pasokan air baku, meskipun membutuhkan investasi besar, khususnya dalam pembangunan infrastruktur jaringan distribusi.
Sementara itu, opsi teknologi desalinasi dinilai belum menjadi solusi ideal dalam jangka pendek karena biaya yang tinggi dan berpotensi meningkatkan tarif air bagi masyarakat. “Ya, mungkin kalau bicara jangka pendeknya desalinasi, biayanya juga terlalu tinggi,” tegasnya.
Sebagai langkah realistis jangka pendek, pemanfaatan sumur dalam disebut dapat menjadi alternatif sementara sembari menyiapkan strategi jangka panjang yang lebih berkelanjutan dalam menghadapi dampak El Nino. []
Penulis: Desy Alfy Fauzia | Penyunting: Nursiah
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan