China-Taiwan Memanas, Situs Intelijen Jadi Pemicu Baru

China menuding Taiwan memakai situs pelaporan untuk memperoleh informasi intelijen dari warga China dan mengancam akan mengambil tindakan balasan tegas.

BEIJING – Pemerintah China memperingatkan warga, organisasi, dan perusahaan agar tidak memberikan informasi intelijen kepada Taiwan setelah Taipei meluncurkan situs pelaporan yang dinilai Beijing sebagai bentuk pencurian intelijen, infiltrasi, dan sabotase lintas Selat Taiwan.

Peringatan itu disampaikan Juru Bicara Kantor Urusan Taiwan China Chen Binhua setelah Taiwan merilis situs yang diklaim menjadi kanal aman bagi warga China yang ingin memberikan informasi, sebagaimana diberitakan Cnn Indonesia, Rabu, (17/06/2026).

Chen menuding langkah Taiwan tersebut memperburuk konfrontasi lintas selat dan merusak hubungan kedua pihak. Ia menyebut kanal digital itu menunjukkan sikap Taipei yang dinilai tetap mendorong agenda kemerdekaan Taiwan.

“Ini sepenuhnya mengungkap pendirian mereka yang pro-kemerdekaan Taiwan, kekeraskepalaan mereka, pola pikir konfrontatif, dan penolakan untuk mengubah haluan,” kata Chen pada Selasa (16/6), dikutip Reuters.

Beijing juga menyatakan akan mengambil langkah balasan atas peluncuran situs tersebut. Namun, Chen tidak merinci bentuk tindakan yang akan dilakukan pemerintah China terhadap Taiwan.

“Kami mengutuk keras hal ini dan akan mengambil tindakan balasan dengan tegas,” imbuh dia.

Selain mengancam tindakan balasan, Chen mengingatkan warga China, organisasi, perusahaan, dan kelompok lain memiliki tanggung jawab menjaga keamanan nasional. Ia menegaskan pemberian informasi intelijen kepada badan intelijen Taiwan dapat berujung proses hukum.

“Bagi mereka yang memberikan informasi intelijen kepada badan intelijen Taiwan dengan cara yang merupakan tindak pidana, departemen terkait akan menuntut pertanggungjawaban hukum sesuai dengan undang-undang,” ucap Chen.

Taiwan merilis situs tersebut pada pekan lalu. Pemerintah Taiwan menyebut kanal itu sebagai jalur aman bagi orang-orang yang memiliki kekecewaan terhadap sistem di China dan menginginkan perubahan.

Ketegangan intelijen antara China dan Taiwan bukan hal baru. Pada 2024, Beijing juga pernah mengumumkan alamat surat elektronik untuk menerima laporan mengenai dugaan kejahatan yang dilakukan pihak yang mereka sebut sebagai separatis Taiwan.

Hubungan China dan Taiwan terus renggang dalam beberapa tahun terakhir. Beijing menganggap Taiwan sebagai bagian dari wilayahnya, sedangkan Taipei memiliki pemerintahan sendiri dan menolak tekanan politik dari China.

Ancaman terbaru Beijing menunjukkan persaingan informasi antara China dan Taiwan makin bergeser ke ruang digital, sehingga berpotensi memperpanjang ketegangan politik dan keamanan di kawasan Selat Taiwan. []

Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com