Diplomasi AS-Iran Dibayangi Ancaman Bom dari Trump

Menjelang penandatanganan MoU AS-Iran di Swiss, Donald Trump memperingatkan bahwa Washington siap kembali menggunakan kekuatan militer jika Teheran tidak mematuhi kewajibannya.

WASHINGTON
– Diplomasi Amerika Serikat (AS) dan Iran menuju penandatanganan nota kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU) di Swiss masih dibayangi ancaman militer. Presiden AS Donald Trump memperingatkan bahwa Washington siap kembali menyerang apabila Teheran tidak mematuhi kewajibannya dalam proses perdamaian.

Ancaman itu disampaikan Trump menjelang rencana penandatanganan MoU AS-Iran di Burgenstock, Swiss, pada Jumat (19/06/2026), sebagaimana diberitakan CNN Indonesia, Rabu, (17/06/2026). Kesepakatan tersebut disebut sebagai tahap awal menuju perundingan yang lebih luas untuk mengakhiri perang dan membangun perdamaian permanen.

“Tidak, ini belum final. Ini adalah nota kesepahaman,” kata Trump saat menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Kelompok Tujuh (G7) di Prancis.

“Jika saya tidak menyukainya, kami akan kembali menembaki mereka. Jika mereka tidak berperilaku baik, kami akan kembali menjatuhkan bom tepat di atas kepala mereka. Karena mereka berperilaku buruk selama 47 tahun,” imbuh Trump, merujuk pada usia didirikannya revolusi Islam usai Shah digulingkan.

Hingga kini, AS belum merilis teks resmi MoU dengan Iran. Wakil Presiden (Wapres) AS JD Vance mengatakan penundaan itu berkaitan dengan permintaan Qatar dan Pakistan yang menjadi mediator dalam proses negosiasi.

“Ada beberapa prosedur diplomatik yang sedang berjalan di sini, di mana Qatar dan Pakistan menjadi mediator dalam seluruh negosiasi ini dengan Iran, dan mereka pada dasarnya meminta kami mengatur urutan bagaimana kami menjalankan proses ini,” kata Vance pada Selasa (16/6) dalam acara The Five Fox News.

“Kami akan senang merilis perjanjian itu hari ini atau besok. Kami mungkin merilisnya paling lambat hari Jumat, tetapi pada dasarnya, dalam konteks yang lebih luas, itu tidak masalah,” imbuh dia.

Penandatanganan MoU dijadwalkan berlangsung di Burgenstock, Swiss, pada 19 Juni 2026. Delegasi Iran akan dipimpin Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Iran sekaligus mantan komandan Korps Garda Revolusi Islam atau Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC), Mohammed Bagher Ghalibaf.

Sementara itu, pihak AS belum memastikan siapa yang akan memimpin delegasi. Sebelumnya, Trump menyebut Vance akan menghadiri upacara penandatanganan MoU tersebut. Vance juga mengonfirmasi rencana kehadirannya di Swiss dan tidak menutup kemungkinan Trump ikut hadir.

MoU AS-Iran disebut memuat sejumlah isu strategis, mulai dari pembukaan Selat Hormuz, pencabutan sanksi terhadap Iran, hingga masa depan program nuklir Teheran. Kesepakatan ini diharapkan menjadi pijakan awal bagi kedua negara untuk menurunkan eskalasi konflik.

Meski demikian, pernyataan Trump menunjukkan proses perdamaian belum sepenuhnya aman dari risiko ketegangan baru. Penandatanganan MoU di Swiss akan menjadi ujian penting bagi AS dan Iran untuk membuktikan komitmen mereka dalam menahan opsi militer serta membuka ruang diplomasi yang lebih stabil. []

Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com