Sebanyak 507 peserta dari sejumlah daerah mengikuti Festival Olahraga Tradisional Erau Kutai 2026 di Pulau Kumala dengan mempertandingkan menyumpit, begasing, belogo, dan ketapel serta menghadirkan eksibisi benjang.
KUTAI KARTANEGARA – Sebanyak 507 peserta memeriahkan Festival Olahraga Tradisional dalam rangkaian Erau Adat Kutai 2026 yang digelar di kawasan pintu masuk Pulau Kumala, Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), Senin (21/09/2026). Festival yang berlangsung hingga 26 September 2026 itu mempertandingkan sejumlah olahraga tradisional sebagai bagian dari upaya pelestarian budaya sekaligus mengenalkan permainan tradisional kepada generasi muda.
Kepala Dinas (Kadis) Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kukar Aji Ali Husni mengatakan Festival Olahraga Tradisional merupakan agenda rutin yang digelar setiap penyelenggaraan Erau. Selain menjadi sarana pelestarian dan pengembangan olahraga tradisional, kegiatan tersebut diarahkan untuk meningkatkan partisipasi dan prestasi masyarakat, khususnya generasi muda.
“Melalui penyelenggaraan kegiatan olahraga tradisional ini kita memiliki konsistensi, semakin berkualitas dan melibatkan masyarakat secara luas,” kata Aji Ali.
Pada penyelenggaraan tahun ini, empat cabang olahraga tradisional dipertandingkan, yakni menyumpit dengan 65 peserta, begasing 200 peserta, belogo 95 peserta, dan ketapel 52 peserta. Selain pertandingan tersebut, panitia juga menghadirkan eksibisi olahraga benjang.
Aji Ali mengatakan benjang berpotensi terus dikembangkan apabila mendapat respons positif dari masyarakat. Menurut dia, olahraga tersebut tidak menutup kemungkinan kembali dilibatkan dalam rangkaian Erau pada tahun-tahun mendatang.
Festival tersebut tidak hanya diikuti peserta dari Kukar, tetapi juga dari sejumlah daerah di Kalimantan Timur (Kaltim), antara lain Kota Samarinda, Kabupaten Kutai Timur (Kutim), dan Kabupaten Paser. Peserta dari Kalimantan Tengah (Kalteng) dan Kalimantan Utara (Kaltara) juga turut ambil bagian.
Menurut Aji Ali, penyelenggaraan tahun ini memberikan ruang khusus bagi anak-anak tingkat sekolah dasar (SD) dan sekolah menengah pertama (SMP). Langkah tersebut dilakukan seiring berkembangnya minat generasi muda terhadap olahraga tradisional, termasuk begasing dan ketapel.
Sementara itu, Sekretaris Daerah (Sekda) Kukar Sunggono mengatakan olahraga tradisional memiliki nilai yang lebih luas daripada sekadar pertandingan. Menurutnya, berbagai permainan tradisional mengandung unsur kecakapan, ketangkasan, konsentrasi, keberanian, kesabaran, kerja sama, dan sportivitas.
“Olahraga tradisional memiliki nilai yang jauh lebih luas daripada sekadar menang atau kalah,” ujarnya.
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kukar juga mendorong agar olahraga tradisional tidak hanya menjadi kegiatan pelengkap dalam festival budaya. Pembinaan berkelanjutan dinilai perlu dilakukan melalui penyediaan ruang latihan, pembentukan kader pelatih dan juri, dokumentasi aturan permainan, serta pemberian kesempatan yang lebih luas kepada generasi muda untuk berkompetisi.
Festival Olahraga Tradisional Erau 2026 dijadwalkan berlangsung pada 21–26 September 2026. Kehadiran peserta lintas daerah diharapkan tidak hanya memperkuat pelestarian olahraga tradisional, tetapi juga menjadikan kawasan Pulau Kumala sebagai ruang pertemuan budaya, olahraga, masyarakat, dan aktivitas ekonomi selama rangkaian Erau berlangsung. [] (ADV)
Penulis: M. Reza Danuarta | Penyunting: Nursiah
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan