Pencegatan kapal tanker SMYRTOS di Selat Inggris dinilai Ukraina dapat melemahkan sumber pendanaan Rusia untuk membiayai serangan rudal dan pesawat tak berawak.
LONDON – Pencegatan kapal tanker SMYRTOS yang diduga menjadi bagian dari armada bayangan atau shadow fleet Rusia di Selat Inggris dipandang sebagai langkah strategis untuk menekan sumber pembiayaan perang Moskow terhadap Ukraina.
Kapal tanker yang masih berada dalam daftar sanksi itu dicegat militer Inggris pada Minggu (14/06/2026). Operasi tersebut tidak hanya dimaknai sebagai penegakan sanksi, tetapi juga sebagai upaya mempersempit ruang gerak jaringan pengangkutan minyak Rusia yang diduga digunakan untuk menghindari embargo Eropa, sebagaimana diberitakan Cnn Indonesia, Minggu, (14/06/2026).
Menteri Luar Negeri (Menlu) Ukraina Andriy Sybiga mengapresiasi langkah Inggris tersebut. Menurutnya, setiap kapal tanker Rusia yang berhasil dihentikan dapat melemahkan kemampuan Moskow membiayai serangan terhadap Ukraina.
“Kapal tanker Rusia adalah instrumen perang. Setiap kapal yang berhasil dihentikan berarti melemahkan keuangan mesin perang Rusia,” tulis Sybiga di akun media sosialnya.
“Memutus aliran uang ini membantu mereduksi kemampuan Rusia membiayai serangan rudal dan pesawat tak berawak terhadap kota-kota di Ukraina.”
Kementerian Pertahanan (Kemenhan) Inggris menyatakan operasi pencegatan berlangsung sekitar enam jam pada dini hari. Dalam operasi itu, militer Inggris mengerahkan helikopter Chinook dan kapal fregat His Majesty’s Ship (HMS) Sutherland milik Angkatan Laut Inggris.
“Dalam operasi pertama yang dipimpin Inggris, kapal SMYRTOS dinaiki oleh Komando Marinir Kerajaan dan aparat penegak hukum yang terlatih khusus dari Badan Kejahatan Nasional, meskipun Rusia telah berupaya keras untuk menghindari sanksi dan terus memicu perang barbar mereka dengan Ukraina,” kata pernyataan Kemenhan Inggris.
Setelah dicegat, kapal tersebut akan dipindahkan ke lokasi berlabuh di lepas pantai selatan Inggris untuk menjalani pemantauan lebih lanjut. Pemerintah Inggris menilai langkah itu sebagai bagian dari tekanan langsung terhadap jaringan kapal yang diduga membantu Rusia mempertahankan pendanaan perang.
Perdana Menteri (PM) Inggris Keir Starmer menyebut operasi tersebut sebagai pukulan bagi Rusia. Sementara itu, Menteri Pertahanan (Menhan) Inggris Dan Jarvis menilai Moskow bergantung pada armada bayangan untuk menopang konflik di Ukraina.
Menurut Jarvis, gangguan terhadap armada bayangan dapat menekan sumber daya yang menopang agresi Rusia di Ukraina, sekaligus mengurangi kapasitas Moskow dalam mengancam keamanan Eropa dan kawasan sekitarnya.
“Dan pencegatan kami memberikan pukulan telak bagi perang ilegal Putin,” kata dia.
Inggris sebelumnya telah menjatuhkan sanksi terhadap ratusan kapal yang diduga menjadi bagian dari armada bayangan Rusia. Kapal-kapal tersebut diduga digunakan untuk menghindari embargo yang diberlakukan negara-negara Eropa setelah invasi Rusia ke Ukraina pada 2022.
Pemerintah Inggris juga mengaitkan aktivitas kapal-kapal tersebut dengan dugaan kerusakan kabel bawah laut di Laut Baltik. Sejak 2023, sejumlah insiden laut dilaporkan terjadi di kawasan itu, termasuk kerusakan kabel bawah laut dan jaringan listrik.
Mantan Menteri Pertahanan Inggris John Healey pada April lalu menyebut pihaknya telah melacak dan mencegah tiga kapal selam Rusia dalam dugaan operasi rahasia selama sebulan di perairan Inggris di Atlantik Utara, dekat kabel dan pipa bawah laut yang vital.
Inggris juga menyiapkan usulan aturan baru untuk mencegah Rusia dan negara-negara yang dianggap bermusuhan melakukan sabotase terhadap kabel internet bawah laut. Langkah itu diharapkan memperkuat keamanan infrastruktur maritim sekaligus mempersempit jalur pendanaan perang Rusia. []
Redaksi
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan