Pemkab Kukar mematangkan kesiapan Erau Adat Kutai 2026 sekaligus menyiapkan skenario mitigasi terhadap potensi gangguan listrik, pasokan air bersih, dan kualitas udara selama rangkaian kegiatan pada 20-28 September 2026.
KUTAI KARTANEGARA – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kutai Kartanegara (Kukar) mematangkan persiapan Erau Adat Kutai 2026 menjelang pembukaan pada 20 September. Selain memastikan kesiapan rangkaian prosesi, Pemkab Kukar menyiapkan sejumlah skenario mitigasi untuk mengantisipasi gangguan listrik, pasokan air bersih, hingga penurunan kualitas udara selama kegiatan berlangsung.
Persiapan akhir tersebut dibahas dalam rapat final di Sekretariat Panitia Erau, eks Gedung Wanita Tenggarong, Selasa (15/09/2026), atau lima hari sebelum rangkaian Erau dimulai.
Bupati Kukar Aulia Rahman Basri mengatakan, pemerintah daerah memimpin langsung rapat tersebut untuk memastikan seluruh rangkaian kegiatan berjalan sesuai rencana. Erau, menurutnya, merupakan agenda besar sekaligus bagian penting dari adat dan budaya masyarakat Kukar.
“Kami ingin memastikan seluruh rangkaian kegiatan ini berjalan dengan baik, lancar, dan didukung oleh seluruh pihak. Mudah-mudahan tidak ada kendala yang berarti untuk pelaksanaan kegiatan Erau,” kata Aulia.
Menurut Aulia, persiapan rangkaian kegiatan sakral maupun seremonial sejauh ini masih berjalan sesuai perencanaan. Namun, Pemkab Kukar tetap menyiapkan langkah mitigasi terhadap sejumlah potensi gangguan, terutama terkait layanan listrik dan distribusi air bersih.
Ia mengakui kondisi kekeringan turut berdampak terhadap layanan listrik dan Perusahaan Umum Daerah (Perumda) Tirta Mahakam. Karena itu, panitia menyiapkan sejumlah skenario agar pelaksanaan kegiatan tetap dapat berlangsung apabila terjadi gangguan.
“Kita harus melakukan mitigasi sejak awal, sehingga kita sudah bisa mempersiapkan Plan A, Plan B, Plan C, Plan D, bahkan rencana-rencana yang lain ketika misalnya mati lampu dan lain sebagainya, apa yang harus kita lakukan,” ujarnya.
Selain layanan dasar, kualitas udara turut menjadi perhatian Pemkab Kukar. Pemerintah daerah terus memantau indeks kualitas udara untuk memastikan kegiatan yang digelar di ruang terbuka tetap aman dilaksanakan.
Aulia mengatakan, berdasarkan hasil pemantauan terakhir, kondisi udara masih memungkinkan untuk pelaksanaan kegiatan luar ruangan. Namun, pemerintah akan melakukan penyesuaian apabila kondisi udara memburuk atau dinilai tidak mendukung.
Sementara itu, Kepala Dinas (Kadis) Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kukar Heriansyah mengatakan, persiapan fisik untuk kegiatan sakral Erau telah mencapai sekitar 90 persen. Sejumlah prosesi pra-Erau juga telah dilaksanakan, termasuk ziarah ke makam para raja dan sultan di kompleks Museum Mulawarman serta Desa Kutai Lama.
Erau Adat Kutai 2026 juga masuk dalam Karisma Event Nusantara (KEN). Menurut Heriansyah, status tersebut membuat penyelenggaraan Erau harus memenuhi sejumlah standar, mulai dari pengelolaan sampah, mitigasi risiko bencana, dampak terhadap usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), hingga penyediaan informasi dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris.
Terkait dukungan pembiayaan, Heriansyah menyebut belum terdapat dukungan langsung dari Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kalimantan Timur (Kaltim) untuk penyelenggaraan Erau. Dukungan Pemprov Kaltim sejauh ini lebih banyak diberikan dalam bentuk promosi.
“Harapan kita bahwa Erau ini bukan hanya milik Kutai Kartanegara. Erau ini miliknya Kaltim, bahkan miliknya Indonesia. Semuanya harusnya bisa berkolaborasi karena ini adalah milik kita bersama, ini adalah adat kita, identitas kita,” kata Heriansyah.
Ia menambahkan, dukungan juga diberikan kementerian dalam bentuk manfaat kegiatan, antara lain promosi serta fasilitas tertentu yang disalurkan melalui pihak ketiga.
Erau Adat Kutai 2026 dijadwalkan berlangsung pada 20-28 September 2026 di Tenggarong. Rangkaian kegiatan akan memadukan prosesi sakral dan seremonial dengan melibatkan Kesultanan Kutai Kartanegara. Kesiapan teknis dan skenario mitigasi diharapkan dapat menjaga kelancaran penyelenggaraan sekaligus memastikan rangkaian tradisi tetap berlangsung di tengah potensi gangguan layanan dasar dan kondisi lingkungan. []
Penulis: M. Reza Danuarta | Penyunting: Nursiah
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan