LPTQ Kota Pontianak menerapkan pembinaan yang disesuaikan dengan cabang dan kebutuhan setiap peserta agar kafilah tampil maksimal pada MTQ tingkat Provinsi Kalbar ke-34 di KKU.
PONTIANAK – Kafilah Kota Pontianak akan menjalani pola pembinaan yang disesuaikan dengan karakter, cabang lomba, dan kebutuhan setiap peserta untuk menghadapi Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) tingkat Provinsi Kalimantan Barat (Kalbar) ke-34 di Kabupaten Kayong Utara (KKU). Pendekatan berbasis peserta tersebut diharapkan mampu mengoptimalkan kemampuan kafilah sebelum memasuki arena perlombaan.
Ketua Umum (Ketum) Lembaga Pengembangan Tilawatil Quran (LPTQ) Kota Pontianak Amirullah mengatakan panitia dan pelatih harus menempatkan kesiapan peserta sebagai fokus utama selama pemusatan latihan atau training center (TC).
“Pendekatannya harus pendekatan peserta. Apa kebutuhan mereka, itu yang harus diperhatikan, supaya mereka bisa maksimal dan optimal,” jelasnya saat membuka TC Kafilah Kota Pontianak di Aula Gedung LPTQ Kota Pontianak, Jumat (10/07/2026).
Amirullah, yang juga Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Pontianak, menjelaskan setiap peserta memiliki karakter dan kebutuhan pembinaan yang berbeda. Pelatih tidak dapat menerapkan pola latihan yang sama untuk seluruh cabang, mulai dari tilawah, hifzil Quran, kaligrafi, hingga cabang perlombaan lainnya.
Sebagaimana diberitakan Pemerintah Kota Pontianak, Jumat, (10/07/2026), penyesuaian metode latihan diperlukan agar setiap peserta memperoleh pendampingan, fasilitas, dan materi pembinaan sesuai bidang yang diikuti.
Menurut Amirullah, TC tidak boleh sekadar menjadi kegiatan seremonial menjelang kompetisi. Seluruh waktu, tenaga, fasilitas, dan strategi harus diarahkan untuk meningkatkan kesiapan peserta secara maksimal.
“Karena ini pemusatan latihan, arahannya adalah benar-benar latihan. Semua komponen harus berjalan dengan baik,” ujar Sekretaris Daerah Kota Pontianak ini ketika membuka TC Kafilah Kota Pontianak di Aula Gedung LPTQ Kota Pontianak, Jumat (10/7/2026).
Ia mengatakan keberhasilan pembinaan tidak hanya bergantung pada kemampuan peserta dan pelatih. Pengurus, panitia, sarana, prasarana, serta pelayanan selama TC juga harus bekerja secara terpadu untuk mendukung pencapaian target kafilah.
Setiap program latihan, lanjutnya, harus disusun melalui tahapan perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, pemantauan, evaluasi, dan pelaporan. Pengelolaan yang terukur diperlukan agar kendala selama pembinaan dapat segera diketahui dan diperbaiki.
“Mengurus itu artinya mengelola. Kerja harus dirancang, diorganisir, dikerjakan, dimonitor, dievaluasi, dan dibuat laporan,” katanya.
Selain memetakan kebutuhan peserta, Amirullah meminta pelatih dan pengurus memperhatikan kekuatan kafilah daerah lain. Langkah tersebut diperlukan untuk mengukur kemampuan peserta sekaligus menyusun strategi menghadapi persaingan pada MTQ tingkat Provinsi Kalbar.
“Ini sebuah kompetisi, pertandingan, dan perlombaan. Kita harus melihat lawan, bukan musuh, agar kita tidak terlena dan tertinggal,” ungkapnya.
Meski menargetkan hasil terbaik, Amirullah mengingatkan seluruh peserta dan pengurus tetap membangun persaingan yang sehat. Keikutsertaan dalam MTQ tidak hanya berorientasi pada prestasi, tetapi juga menjadi bagian dari upaya mengembangkan nilai dan syiar Al-Qur’an.
Ia juga meminta pengurus, panitia, dan pelatih melandasi pelaksanaan pembinaan dengan keikhlasan karena kegiatan LPTQ berkaitan dengan pengembangan Al-Qur’an di tengah masyarakat.
“Luruskan niat semata-mata untuk mengembangkan Al-Quran dan mencari pahala. Ini kerja mulia,” katanya.
Melalui pembinaan yang terarah dan disesuaikan dengan kebutuhan peserta, Amirullah berharap kafilah Kota Pontianak dapat meningkatkan kualitas penampilan dan meraih hasil lebih baik pada MTQ tingkat Provinsi Kalbar ke-34 di KKU.
“Mudah-mudahan tujuan kita untuk menjadi lebih baik bisa tercapai,” pungkasnya. []
Redaksi
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan