gambar ilustrasi

Karhutla Kobar Meluas, 97,5 Hektare Lahan Terbakar

BPBD Kobar memperkuat patroli, pemantauan hotspot, dan edukasi masyarakat setelah 97,5 hektare lahan terbakar sepanjang Januari hingga Mei 2026.

KOTAWARINGIN BARAT – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar), Kalimantan Tengah (Kalteng), memperketat mitigasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) setelah 97,5 hektare lahan terbakar sepanjang Januari hingga Mei 2026.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Bidang (Kabid) Kedaruratan dan Logistik BPBD Kobar, Andan Santana, mengatakan tren karhutla mulai mengkhawatirkan karena titik kebakaran muncul di sejumlah kecamatan. Dari total luasan tersebut, sekitar 56,3 hektare lahan telah berhasil dipadamkan.

“Wilayah Kumai menjadi daerah paling terdampak dengan luas kebakaran mencapai 54,65 hektare dari 19 kejadian karhutla. Angka ini menjadikan Kumai sebagai titik paling rawan sepanjang lima bulan pertama tahun ini,” Plt Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik, Andan Santana,  sebagaimana diberitakan Detik, Sabtu, (06/06/2026).

Selain Kumai, Kecamatan Kotawaringin Lama mencatat lima kejadian karhutla dengan luas lahan terbakar 24,5 hektare. Sementara itu, Kecamatan Arut Selatan menjadi wilayah dengan intensitas kejadian tertinggi, yakni 20 kali karhutla, dengan luas lahan terbakar 14,36 hektare.

“Menariknya, wilayah ini juga mencatat 16 titik panas (hotspot), tertinggi di antara kecamatan lain,” ujarnya.

Di Kecamatan Pangkalan Banteng, satu kejadian karhutla tercatat membakar sekitar 4 hektare lahan. Adapun Kecamatan Arut Utara memiliki lima hotspot, tetapi belum terjadi kebakaran lahan. Sementara Kecamatan Pangkalan Lada masih nihil kejadian karhutla maupun hotspot.

BPBD Kobar menegaskan pencegahan dini menjadi fokus utama menghadapi musim kemarau. Upaya tersebut dilakukan melalui patroli darat, pemantauan hotspot berbasis satelit, koordinasi dengan aparat desa, serta peningkatan kesiapsiagaan personel dan peralatan pemadaman.

“Fokus kami saat ini adalah pencegahan dini dan respons cepat di lapangan,” kata dia.

Andan juga mengingatkan masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara membakar. Menurut dia, edukasi kepada masyarakat terus digencarkan karena kebakaran yang telanjur membesar akan lebih sulit dikendalikan.

“Edukasi ke masyarakat terus kami lakukan, karena pencegahan jauh lebih efektif dibandingkan penanganan setelah api membesar,” tambah Andan Santana.

BPBD Kobar menilai kewaspadaan perlu terus dijaga, terutama di wilayah rawan seperti Kumai dan Kotawaringin Lama. Kolaborasi pemerintah daerah, aparat desa, dan masyarakat diharapkan mampu menekan kejadian karhutla agar tidak meningkat saat puncak kemarau. []

Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com