Kemnaker Gandeng TikTok, Siapkan 100 Ribu Talenta Digital

Kolaborasi Kemnaker dan TikTok menghadirkan pelatihan digital bagi ribuan peserta untuk meningkatkan keterampilan dan memperluas peluang kerja di era ekonomi digital.

JAKARTA – Pemerintah melalui Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) menggandeng platform digital TikTok Indonesia untuk memperluas akses pelatihan keterampilan ekonomi digital bagi masyarakat, menyusul pesatnya pertumbuhan sektor tersebut yang dinilai belum sepenuhnya diimbangi kesiapan tenaga kerja. Kolaborasi ini diwujudkan melalui program Belajar dan Implementasi Skill Adaptif Bareng TikTok (BISA Bareng TikTok), Rabu (15/04/2026).

Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Yassierli menegaskan, transformasi ekonomi digital telah mengubah pola kerja masyarakat secara signifikan. Perubahan ini menuntut peningkatan keterampilan baru agar tenaga kerja mampu beradaptasi dan memanfaatkan peluang yang tersedia.

“Perkembangan ekonomi digital membuka peluang penghasilan tambahan yang fleksibel, terutama melalui tren discovery commerce, ketika konsumen menemukan produk melalui konten digital yang informatif dan menghibur. Ini membuka ruang kerja baru yang harus disambut dengan kesiapan keterampilan yang memadai,” ujar Yassierli sebagaimana diberitakan Kompas, Rabu, (15/04/2026).

Berdasarkan laporan e-Conomy SEA, nilai ekonomi digital Indonesia diproyeksikan mendekati USD 100 miliar atau sekitar Rp1.656 triliun pada 2025. Kondisi ini menjadikan Indonesia sebagai pasar digital terbesar di Asia Tenggara, dengan sektor e-commerce sebagai kontributor utama.

Namun, di balik peluang tersebut, Menaker menilai masih terdapat kesenjangan keterampilan di kalangan tenaga kerja. Banyak masyarakat yang belum menguasai strategi konten, teknik penjualan digital, hingga analisis pasar yang menjadi kunci bersaing di era digital.

“Program ini hadir untuk memberikan pelatihan praktis guna meningkatkan kompetensi tenaga kerja, memperkuat ketahanan ekonomi masyarakat, sekaligus membangun kapasitas trainer nasional sebagai agen literasi digital,” ujarnya.

Program BISA Bareng TikTok pada tahap awal diikuti sekitar 1.400 peserta, terdiri atas 400 peserta offline dan 1.000 peserta online. Peserta berasal dari berbagai latar belakang, mulai dari instruktur pelatihan, tim humas/media sosial Kemnaker, hingga masyarakat umum seperti calon kreator, affiliator, seller, pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), serta pencari kerja.

Pelatihan difokuskan pada dua materi utama, yakni pelatihan live streaming host TikTok dan pengembangan talenta content commerce. Metode pelatihan dirancang berbasis hands-on dan learning by doing agar peserta mampu langsung mempraktikkan keterampilan yang diperoleh.

“Di sini juga ada instruktur, nanti mereka ikut paket pelatihan training of trainers atau ToT, dan mereka nanti akan menjadi pelatih untuk melakukan pelatihan BISA ini di balai-balai,” katanya.

Ke depan, Menaker menargetkan program ini mampu mencetak hingga 100.000 alumni dalam satu tahun melalui sistem pelatihan berjenjang yang melibatkan para instruktur sebagai pelatih lanjutan di berbagai daerah.

“Tentunya tujuan akhir pelatihan ini adalah penyerapan tenaga kerja dan menumbuhkan semangat kewirausahaan di seluruh Indonesia, sehingga tercipta ekosistem digital yang inklusif dan tangguh,” kata Yassierli.

Menaker juga mengapresiasi peran TikTok dalam mendukung pengembangan pelatihan vokasi nasional, serta menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah dan sektor swasta dalam memperkuat daya saing tenaga kerja Indonesia.

“Kolaborasi antara pemerintah, platform digital, dan masyarakat perlu terus diperkuat agar Indonesia tidak hanya menjadi pasar digital yang besar, tetapi juga memiliki tenaga kerja lokal yang unggul, kreatif, dan mampu bersaing,” katanya.

Sementara itu, Head of Public Policy & Government Relations TikTok Indonesia Hilmi Adrianto menyebut, kerja sama ini bertujuan memperluas akses pelatihan yang relevan bagi masyarakat agar mampu memanfaatkan peluang ekonomi digital secara optimal.

“Melalui program ini, TikTok berkomitmen memberikan dukungan konkret, mulai dari pelatihan praktis hingga pengembangan kurikulum bagi para trainer dan masyarakat umum untuk menjadi content creator, affiliator, maupun pelaku usaha digital,” ujarnya.

Ia menambahkan, program ini diharapkan mampu memberikan dampak berkelanjutan bagi penguatan ekosistem ekonomi digital nasional.

“TikTok adalah platform yang inklusif, tempat siapa pun, dari latar belakang apa pun, memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang, menemukan audiensnya, dan menciptakan peluang ekonomi,” katanya.

Kolaborasi ini menjadi langkah strategis dalam menjawab tantangan ketenagakerjaan di era digital, sekaligus memastikan pertumbuhan ekonomi digital Indonesia berjalan lebih inklusif dan berkelanjutan. []

Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com