Kenaikan Harga Plastik Bebani Produksi, UMKM Balikpapan Cari Kemasan Alternatif

Kenaikan harga plastik hingga hampir dua kali lipat memaksa pelaku UMKM di Balikpapan menyesuaikan biaya produksi dan mencari alternatif kemasan.

BALIKPAPAN – Lonjakan harga plastik kemasan yang mencapai 60 persen hingga hampir 100 persen sejak awal April 2026 memukul pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Balikpapan. Kenaikan tersebut memaksa pelaku usaha menghitung ulang harga pokok produksi (HPP) serta menyesuaikan strategi agar usaha tetap bertahan tanpa merugi.

Kenaikan harga bahan plastik berdampak langsung pada biaya operasional, terutama bagi pelaku usaha kuliner dan pedagang jajanan. Komponen kemasan yang sebelumnya dianggap kecil, kini menjadi beban produksi yang signifikan dan harus diperhitungkan secara cermat.

Di lapangan, harga berbagai jenis kemasan mengalami kenaikan. Plastik kresek yang sebelumnya berada di kisaran Rp10 ribu per pak kini naik menjadi sekitar Rp15 ribu. Sementara plastik ukuran besar dilaporkan melonjak hingga dua kali lipat. Kondisi ini membuat pelaku usaha harus menghitung ulang seluruh struktur biaya produksi agar tidak mengalami kerugian.

Sebagian pelaku UMKM mulai mencari alternatif dengan menggunakan kemasan ramah lingkungan, seperti tas belanja berbahan daur ulang, atau menjual produk secara curah. Namun, tidak semua jenis produk memungkinkan penggunaan metode tersebut, sehingga sebagian pelaku usaha tetap bergantung pada kemasan plastik.

Kepala Dinas Koperasi, Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah, serta Perindustrian (DKUMKMP) Balikpapan, Heru Ressandy Setia Kusuma, mengatakan sebagian pelaku usaha saat ini masih mengandalkan stok lama.

“Pelaku UMKM saat ini sebagian masih memanfaatkan stok lama. Setelah itu, mereka perlu menghitung ulang biaya produksi,” ujarnya, Rabu (22/04/2026) di Balai Kota Balikpapan.

Heru menjelaskan, penggunaan alternatif kemasan dapat menjadi solusi sementara untuk menekan biaya produksi.

“Mungkin saja pakai tas belanja, produknya dijual curah. Itu salah satu pilihan yang bisa dilakukan,” katanya.

Ia menegaskan, kenaikan harga bahan plastik akan berdampak pada harga jual produk di pasaran. Menurutnya, pelaku usaha memiliki kebebasan dalam menentukan strategi harga masing-masing, dengan mempertimbangkan kondisi biaya produksi.

“Kalau mereka ingin mempertahankan harga, tapi bahan baku naik, pasti mereka akan menghitung ulang HPP-nya. Semua kembali ke masing-masing pelaku usaha,” jelasnya.

Namun, Heru mengingatkan agar pelaku usaha tidak terburu-buru menaikkan harga secara drastis tanpa perhitungan matang, karena dapat memengaruhi daya beli masyarakat.

“Jangan terburu-buru menaikkan harga. Dilihat dulu hitungannya, supaya daya beli masyarakat tidak terganggu,” tegasnya.

Di sisi lain, DKUMKMP Balikpapan tengah menyiapkan wacana bantuan bagi pelaku UMKM, khususnya dalam penyediaan kemasan. Rencana tersebut masih dalam tahap pembahasan internal.

“Kemarin waktu Rapat Dengar Pendapat (RDP) sudah kita sampaikan. Kita coba dulu untuk sekitar 100 pelaku usaha,” ungkapnya.

Ia menyebut kebutuhan anggaran tahap awal diperkirakan mencapai ratusan juta rupiah.

“Kalau dihitung, mungkin sekitar Rp300 sampai Rp500 juta. Tapi ini masih wacana, belum final,” katanya.

Program tersebut diharapkan dapat membantu pelaku UMKM menghadapi tekanan biaya produksi sekaligus mendorong inovasi kemasan melalui pelatihan dan pendampingan. Pemerintah daerah menilai adaptasi strategi menjadi kunci utama dalam menjaga ketahanan ekonomi lokal di tengah kenaikan harga bahan baku.

“Intinya mereka harus bisa menyesuaikan. Kalau tidak dihitung ulang, bisa rugi,” pungkasnya. []

Penulis: Desy Alfy Fauzia | Penyunting: Nursiah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com