Pemkab Kutim menargetkan Geopark Sangkulirang-Mangkalihat memperoleh pengakuan nasional pada Oktober sebelum diajukan kembali ke UNESCO.
KUTAI TIMUR – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kutai Timur (Kutim) mendorong percepatan pengakuan Geopark Sangkulirang-Mangkalihat sebagai Geopark Nasional. Kawasan yang berada di Kutim dan Kabupaten Berau itu saat ini tengah menjalani verifikasi lapangan oleh tim penilai.
Bupati Kutim Ardiansyah Sulaiman mengatakan verifikasi lapangan menjadi tahapan penting sebelum kawasan tersebut mendapat pengakuan resmi dari pemerintah pusat.
“Geopark itu kondisi sekarang ini yang kutim sama berau lagi dilakukan verifikasi lapangan untuk diakui secara nasional,” ujar Ardiansyah, usai membuka Sosialisasi Keamanan Pangan Tahun 2026 yang digelar Dinas Kesehatan (Dinkes) Kutim di Gedung Serbaguna Sangatta, Rabu (24/06/2026).
Menurut Ardiansyah, geopark atau taman bumi tidak hanya menonjolkan kekayaan geologi, tetapi juga memuat nilai sejarah, budaya, antropologi, serta hubungan manusia dengan lingkungan yang terbentuk selama ribuan tahun.
Kawasan Sangkulirang-Mangkalihat dinilai memiliki keunggulan karena menyimpan beragam potensi, mulai dari bentang alam karst, situs prasejarah, hingga kekayaan budaya masyarakat yang hidup di sekitarnya.
Karena wilayah geopark mencakup dua kabupaten, yakni Kutim dan Berau, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kalimantan Timur (Kaltim) memiliki kewenangan mengusulkan dan menyampaikan dokumen pengajuan kepada pemerintah pusat.
Ardiansyah berharap seluruh tahapan verifikasi berjalan lancar sehingga Geopark Sangkulirang-Mangkalihat dapat memperoleh pengakuan nasional pada Oktober mendatang.
“Makanya saya tadi minta dukungan supaya ini selesai sehingga di Oktober Sangkulirang – Mangkalihat itu dapat pengakuan secara nasional dan siap untuk kita kirim lagi ke UNESCO,” katanya.
Menurut dia, status Geopark Nasional akan menjadi modal penting sebelum kawasan tersebut diajukan kembali ke Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO) untuk memperoleh pengakuan sebagai UNESCO Global Geopark.
Selain membahas geopark, Ardiansyah juga menyinggung perkembangan kawasan pariwisata di wilayah pesisir yang menjadi lokasi penyelenggaraan Festival Sekerat Nusantara. Ia meyakini pengembangan sektor industri dan aktivitas pelabuhan tidak akan mengganggu kawasan wisata yang telah berkembang.
Ardiansyah menilai masih ada sejumlah titik yang dapat dimanfaatkan untuk pengembangan infrastruktur pelabuhan tanpa mengorbankan potensi pariwisata daerah.
“Jadi di sana kan ada pelabuhan pelabuhan, masih ada jalur yang mungkin bisa untuk yang lain selain dari pariwisata,”pungkasnya. []
Penulis: Butsainah Yusri | Penyunting: Nursiah
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan