Aplikasi SITELADAN mulai diuji untuk 536 guru dan tenaga kependidikan Non-ASN penerima insentif di HSU dengan fokus pada akurasi absensi, kondisi jaringan pelosok, dan efisiensi administrasi.
AMUNTAI – Sebanyak 536 guru dan tenaga kependidikan Non-Aparatur Sipil Negara (Non-ASN) penerima insentif Pemerintah Daerah (Pemda) Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU) mulai menggunakan sistem absensi digital berbasis biometrik melalui aplikasi SITELADAN. Sistem tersebut diuji selama satu bulan untuk memastikan pencatatan kehadiran berjalan akurat sekaligus dapat diterapkan di wilayah dengan kondisi jaringan yang beragam.
Aplikasi SITELADAN diluncurkan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) HSU setelah rangkaian bimbingan teknis selama tiga hari, 28–30 September 2026, di Aula Disdikbud HSU. Penerapannya mencakup pendidik dan tenaga kependidikan pada jenjang Taman Kanak-Kanak (TK), Sekolah Dasar (SD), hingga Sekolah Menengah Pertama (SMP).
Sistem absensi tersebut memungkinkan pengguna melakukan presensi melalui telepon seluler berbasis Android. Teknologi biometrik digunakan untuk memverifikasi identitas secara langsung dan real-time, sementara data kehadiran disinkronkan dengan pusat data Disdikbud HSU.
Penggunaan sistem digital juga ditujukan untuk mengurangi potensi pemalsuan kehadiran, termasuk manipulasi lokasi dan praktik titip absen. Tingkat keandalan sistem disebut berada di atas 85 persen berdasarkan keterangan dalam pelaksanaan program.
Masa uji coba selama satu bulan menjadi tahap penting sebelum sistem diterapkan secara penuh. Disdikbud HSU akan mengevaluasi kestabilan aplikasi, keterjangkauan jaringan di wilayah pelosok, serta kemudahan penggunaan bagi para pendidik.
Kepala Disdikbud HSU Rahman Heriadi mengatakan penerapan SITELADAN berkaitan dengan upaya memastikan pemberian insentif Pemda HSU sesuai dengan kondisi pengabdian pendidik di lapangan.
“Peluncuran SITELADAN adalah bukti komitmen kami menghadirkan tata kelola yang bersih dan akuntabel. Kami ingin memastikan setiap rupiah insentif dari Pemda HSU tersalurkan secara adil dan tepat sasaran, sejalan dedikasi kawan-kawan pendidik di lapangan. Masa uji coba satu bulan ini akan kami maksimalkan untuk menyempurnakan sistem sebelum diberlakukan secara penuh,” ujarnya.
Kepala Bidang (Kabid) Pembinaan Guru dan Tenaga Kependidikan Disdikbud HSU Basuki Rahman mengatakan sistem tersebut juga diharapkan mengatasi persoalan administrasi kehadiran yang selama ini dilakukan secara manual.
Menurut dia, pencatatan manual dinilai kurang efisien dan memiliki risiko kesalahan. Dengan sistem biometrik, data kehadiran dapat tercatat secara digital sehingga proses administrasi sekolah menjadi lebih ringan.
Dari sisi biaya, penerapan SITELADAN juga membuat sekolah tidak lagi harus menyediakan anggaran untuk membeli dan merawat mesin absensi fisik. Dengan demikian, sistem digital diharapkan dapat menyederhanakan pengelolaan kehadiran sekaligus mengurangi kebutuhan perangkat fisik.
Muhamad Zein, guru honorer penerima insentif, mengatakan penggunaan aplikasi sempat menimbulkan kekhawatiran pada awal penerapan. Namun, setelah mengikuti pelatihan, ia menilai sistem tersebut lebih praktis.
“Ternyata sangat praktis, cukup lewat HP. Sistem ini menjamin keadilan — yang benar-benar hadir dan mengajar akan diakui. Kami juga menyambut baik rencana fitur perizinan yang akan datang, pasti sangat mempermudah urusan administrasi,” ungkapnya.
Setelah tahap uji coba, SITELADAN direncanakan dikembangkan menjadi layanan kepegawaian yang lebih terintegrasi. Salah satu fitur yang disiapkan ialah perizinan elektronik untuk pengajuan cuti, izin sakit, dan tugas luar secara paperless.
Pengembangan tersebut diharapkan membuat pengelolaan administrasi guru dan tenaga kependidikan lebih praktis sekaligus memperkuat transparansi pencatatan kehadiran dan penyaluran insentif di HSU. []
Redaksi 03
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan