Intelijen Latvia memperingatkan bahwa provokasi hibrida Rusia terhadap negara Baltik atau Polandia berisiko memicu salah perhitungan dan konfrontasi lebih luas dengan NATO.
MOSKOW – Risiko salah perhitungan Presiden Rusia Vladimir Putin dinilai menjadi ancaman paling mendesak bagi keamanan Eropa karena provokasi terbatas terhadap negara-negara Baltik atau Polandia dapat berkembang menjadi konfrontasi lebih luas dengan Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO).
Penilaian itu disampaikan intelijen Latvia di tengah munculnya indikasi bahwa Rusia sedang mempersiapkan provokasi militer dalam bentuk serangan hibrida, seperti penggunaan rudal, pesawat nirawak, serangan siber, atau tindakan terhadap infrastruktur penting.
Operasi tersebut diduga bertujuan menekan anggota NATO agar mengurangi atau menghentikan dukungan kepada Ukraina tanpa harus melancarkan perang konvensional berskala penuh.
“Kami melihat indikasi Rusia sedang mempersiapkan provokasi militer terhadap Baltik atau Polandia, bukan perang konvensional karena Rusia belum mampu,” demikian menurut penilaian Intelijen Latvia, dikutip Fox, Senin (22/06/2026).
Mereka lalu berujar, “Tetapi bentuk serangan hibrida, seperti rudal, drone, atau tindakan lain yang dirancang mengirimkan sinyal: hentikan dukungan untuk Ukraina atau Anda akan menghadapi masalah Anda sendiri.”
Peringatan intelijen Latvia tersebut disampaikan sebagaimana diberitakan Cnn Indonesia, Selasa, (23/06/2026). Lembaga itu menegaskan belum terdapat ancaman serangan militer langsung terhadap Latvia dalam waktu dekat.
“Kami tak khawatir dengan skala penuh saat ini. Rusia butuh tiga hingga lima tahun, bahkan jika perang di Ukraina berakhir, untuk membangun kembali kemampuan yang memadai,” lanjut mereka.
Meski serangan konvensional belum dinilai segera terjadi, intelijen Latvia mengkhawatirkan Putin dapat mengambil keputusan berdasarkan informasi yang tidak mencerminkan keadaan sebenarnya. Kondisi itu berpotensi membuat Moskow keliru membaca kesiapan dan keteguhan negara-negara Barat.
“Kekhawatiran terbesar adalah salah perhitungan. Lembaga-lembaga Rusia mengatakan ke Putin apa yang dia dengar, dan itu menciptakan siklus bahaya yang bisa memicu keputusan bodoh dan tak masuk akal,” kata intelijen Latvia.
Mereka menilai Putin semakin terisolasi dan cenderung hanya menerima laporan yang sesuai dengan keinginannya. Situasi tersebut disebut dapat meningkatkan risiko keputusan strategis yang tidak didasarkan pada fakta di lapangan.
“Dia terisolasi, dan itu membuat pengambilan keputusan semakin bermasalah karena keputusan tak berdasarkan situasi sebenarnya,” tambah intelijen Latvia.
Kekhawatiran serupa sebelumnya disampaikan Wakil Menteri Luar Negeri (Wamenlu) Polandia Marcin Bosacki. Ia menyebut perang hibrida Rusia terhadap sayap timur NATO telah berlangsung melalui serangan siber, aktivitas pesawat nirawak, pembunuhan, dan gangguan terhadap infrastruktur penting.
Latvia, Estonia, Lituania, dan Polandia merupakan anggota NATO. Setiap provokasi terhadap negara-negara tersebut berpotensi menguji solidaritas dan mekanisme pertahanan kolektif aliansi.
Karena itu, ancaman di kawasan tersebut tidak hanya terletak pada kemungkinan invasi terbuka, tetapi juga pada tindakan terbatas yang sulit diidentifikasi, disangkal pelakunya, atau disalahartikan oleh salah satu pihak. Kewaspadaan dan komunikasi antarpihak diperlukan agar provokasi hibrida tidak berkembang menjadi konflik militer yang lebih luas. []
Redaksi
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan