Siswa Kukar Bersih-Bersih, Malah Temukan ‘Harta Karun’ Budaya di Jam Bentong

Aksi bersih-bersih Dispar Kukar bersama pelajar berubah menjadi sarana edukasi budaya setelah ditemukannya koleksi artefak di Jam Bentong.

KUTAI KARTANEGARA – Aksi bersih-bersih yang digelar Dinas Pariwisata (Dispar) Kukar bersama siswa Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 2 Tenggarong di kawasan wisata Jam Bentong, Jumat (24/04/2026) pagi, bertransformasi menjadi ruang edukasi budaya setelah para pelajar menemukan koleksi artefak sejarah di lokasi tersebut.

Kegiatan yang dipimpin Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dispar Kukar Agus Dharmawan bersama Kepala Bidang (Kabid) Pemasaran Wisata Dispar Kukar Awang Ivan Akhmad Yamani itu awalnya difokuskan pada aksi pungut sampah di sejumlah titik strategis. Selain Jam Bentong, kegiatan juga menyasar Taman Kota Raja dan Bundaran Tuah Himba yang menjadi pusat aktivitas masyarakat.

Namun, aktivitas kebersihan sempat terhenti ketika rombongan siswa diajak memasuki ruang pamer di dalam bangunan Jam Bentong. Para pelajar tampak antusias mengamati berbagai koleksi benda pusaka dan seni budaya Kutai Kartanegara Ing Martadipura yang tersimpan di lokasi tersebut.

Saskia, salah satu siswi, mengaku terkejut karena selama ini mengira koleksi artefak hanya terdapat di Museum Mulawarman.

“Kami tahunya koleksi cuma ada di museum seberang sana. Ternyata di sini, di Jam Bentong yang suka kami lewati, ada ragam budaya yang luar biasa. Rasanya seperti menemukan harta karun,” ujarnya dengan semangat.

Melihat respons tersebut, Dispar Kukar langsung memanfaatkan momentum untuk memberikan edukasi sejarah secara langsung. Para staf Dispar berperan sebagai pemandu, menjelaskan makna filosofis di balik ukiran, kain, hingga relik peninggalan Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura.

Agus Dharmawan menilai, minimnya pengetahuan pelajar terhadap koleksi budaya lokal menjadi catatan penting dalam upaya promosi wisata daerah.

“Ini bukti bahwa objek wisata di depan mata sendiri belum sepenuhnya dikenal anak muda. Kolaborasi semacam ini tidak hanya membersihkan lokasi secara fisik, tetapi juga membersihkan ‘debu’ ketidaktahuan dari ingatan generasi penerus,” tegasnya.

Ia berharap kegiatan serupa dapat terus dikembangkan sebagai metode edukasi yang menggabungkan kepedulian lingkungan dengan penguatan identitas budaya lokal di kalangan generasi muda Kukar.

Melalui pendekatan tersebut, para siswa tidak hanya diajak menjaga kebersihan lingkungan, tetapi juga memahami kekayaan sejarah dan budaya daerahnya sendiri, sehingga wisata lokal tidak kehilangan daya tarik di tengah arus modernisasi. []

Penulis: Anggi Triomi | Penyunting: Nursiah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com