Pemkot Makassar menata ratusan sapi di TPA Tamangapa agar tidak lagi mengonsumsi sampah campuran sekaligus mengembangkan pemanfaatan sampah organik dan memperkuat pengolahan air lindi.
SULAWESI SELATAN – Pemerintah Kota (Pemkot) Makassar menyiapkan area khusus untuk menata ratusan sapi yang selama ini berkeliaran di kawasan Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Tamangapa, Kecamatan Manggala. Penataan tersebut diarahkan agar ternak tidak lagi mengonsumsi sampah campuran sekaligus membuka pemanfaatan sampah organik sebagai sumber pakan.
Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin mengatakan, area yang disiapkan menyerupai kandang komunal sehingga keberadaan dan kebutuhan ternak dapat dikendalikan. Sampah organik hasil pemilahan dari rumah warga dan pasar nantinya dapat dimanfaatkan sebagai pakan.
“Makanya kita siapkan lokasi seperti kandang. Sampah organiknya hasil pemilahan sampah dari rumah warga dan pasar bisa menjadi pakan sapi,” kata Munafri, sebagaimana diberitakan CNN Indonesia, Sabtu (19/09/2026).
Penataan ternak menjadi salah satu bagian dari pembenahan kawasan TPA Tamangapa. Pemkot Makassar juga mengarahkan pengelolaan kawasan tersebut secara bertahap menuju sistem sanitary landfill, dengan timbunan sampah ditutup menggunakan tanah urug untuk mengurangi dampak dari metode pembuangan terbuka (open dumping).
Munafri menyebut area kandang juga akan ditata agar lebih mudah dibersihkan. Pengelolaan pakan ternak direncanakan dilakukan secara terukur sehingga kebutuhan sapi dapat dipenuhi tanpa bergantung pada sampah campuran di area timbunan.
Selain persoalan ternak, Pemkot Makassar memperkuat pengelolaan air lindi, yakni cairan hasil rembesan dari timbunan sampah. Pengolahan air lindi di TPA Tamangapa mulai menggunakan teknologi EcoTru yang memanfaatkan bakteri dan dilakukan secara bertahap dari kolam pertama hingga kolam terakhir.
“Treatment-nya menggunakan bakteri dari EcoTru. Jadi dilakukan secara bertahap, mulai dari kolam pertama sampai kolam terakhir,” kata Munafri.
Kapasitas pengolahan air lindi juga masih akan diperkuat. Pemkot Makassar bersama pihak terkait menyiapkan tambahan unit kolam pengolahan yang saling terhubung untuk menyesuaikan dengan luas kawasan TPA Tamangapa.
“Untuk luasan seperti ini, cukup dengan kolam instalasi pengolahan limbah. Ini harus dibuat lagi tambahan. Berarti nanti akan ada unit kolam pengolahan yang saling berhubungan satu dengan yang lain,” terangnya.
Munafri mengatakan pembenahan kolam lindi tidak hanya ditujukan untuk mengendalikan dampak lingkungan. Jika kualitas hasil pengolahan telah memenuhi ketentuan dan kawasan dapat dikelola dengan baik, area tersebut juga berpeluang dikembangkan untuk kegiatan produktif dan edukatif.
“Selama ini kan belum ditata dengan baik, maka kita mulai benahi perlahan,” tuturnya.
“Sebenarnya kalau ini bisa dikelola dengan baik, ini bisa menjadi hebat. Kolam pemancingan ikan dan sebagainya. Maka dari itu, ini sangat penting,” sambung Munafri.
Pembenahan TPA Tamangapa juga mencakup penataan timbunan sampah dan infrastruktur pendukung. Pemerintah menilai pengelolaan TPA harus menjadi bagian dari sistem persampahan yang lebih menyeluruh, mulai dari pengurangan sampah hingga pengendalian dampak yang muncul di lokasi pemrosesan akhir.
“TPA ini bisa berdiri sendiri, TPA adalah satu bagian yang mempunyai turunan yang harus kita selesaikan secara bersama-sama,” jelasnya.
Pemkot Makassar selanjutnya diarahkan untuk menjalankan desain pengelolaan persampahan secara lebih terintegrasi. Langkah tersebut diharapkan tidak hanya membuat kawasan TPA lebih tertata, tetapi juga mengurangi risiko lingkungan dan meningkatkan pemanfaatan sampah yang masih memiliki nilai guna. []
Redaksi 03
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan