Kebakaran besar di kampung terapung Sandakan menghanguskan 1.000 rumah dan memaksa ribuan warga mengungsi, sementara pemerintah Malaysia dan Indonesia bergerak cepat melakukan penanganan.
SABAH – Pemerintah Malaysia bergerak cepat menyalurkan bantuan darurat dan menyiapkan tempat penampungan sementara bagi ribuan warga terdampak kebakaran besar yang meluluhlantakkan sekitar 1.000 rumah di kawasan kampung terapung Sandakan, Sabah, Minggu (19/04/2026) dini hari waktu setempat.
Peristiwa kebakaran hebat itu terjadi di permukiman pesisir yang dikenal sebagai Kampung Bahagia, wilayah timur laut Sabah. Api mulai berkobar sekitar pukul 01.30 waktu setempat dan dengan cepat menghanguskan bangunan rumah terapung yang sebagian besar berbahan mudah terbakar.
Kepala Kepolisian Sandakan George Abd Rakman menyebut insiden tersebut sebagai tragedi berskala besar yang berdampak pada sekitar 9.007 warga. Sementara itu, Sabah Fire and Rescue Department (Departemen Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Sabah) mengerahkan 37 personel dari dua pos untuk memadamkan api.
“Kebakaran melibatkan sekitar 1.000 rumah terapung sementara dengan total area 10 acre, dan 100 persen hangus terbakar,” demikian pernyataan resmi lembaga tersebut, sebagaimana diwartakan Cnn Indonesia, Senin (20/04/2026).
Proses pemadaman menghadapi berbagai kendala teknis. Akses jalan yang sempit membuat mobil pemadam tidak dapat menjangkau titik api, sementara kondisi air laut yang surut menghambat petugas memperoleh sumber air terbuka. Angin kencang juga mempercepat penyebaran api ke seluruh kawasan permukiman.
Meski kerusakan yang ditimbulkan sangat besar, otoritas setempat memastikan tidak ada laporan korban jiwa. Namun, sejumlah warga dilaporkan mengalami luka ringan saat berusaha menyelamatkan barang berharga mereka.
Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim menyatakan pemerintah federal telah berkoordinasi dengan otoritas Sabah untuk memastikan penanganan cepat bagi korban. “Prioritas saat ini adalah keselamatan para korban dan bantuan darurat di lapangan,” ujarnya melalui unggahan di media sosial.
Di sisi lain, Pemerintah Republik Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri (Kemlu) juga melakukan langkah responsif terhadap potensi dampak terhadap warga negara Indonesia (WNI). Direktur Pelindungan WNI Kemlu Heni Hamidah menyampaikan bahwa sebagian penghuni kawasan tersebut merupakan WNI, termasuk yang telah menikah dengan warga Malaysia.
“Mayoritas penghuni kawasan merupakan warga negara Malaysia, warga negara Filipina, dan warga negara Indonesia (WNI) yang menikah dengan warga negara Malaysia,” kata Heni dalam keterangan resmi.
Heni memastikan hingga saat ini belum terdapat laporan WNI yang menjadi korban jiwa. Namun, beberapa warga mengalami luka ringan dan telah mendapatkan perawatan medis di rumah sakit setempat.
Konsulat Jenderal Republik Indonesia di Kota Kinabalu (KJRI KK) bersama Direktorat Pelindungan WNI terus berkoordinasi dengan otoritas setempat untuk mendata jumlah dan kondisi WNI terdampak. Selain itu, pemantauan langsung juga dilakukan terhadap kondisi pengungsi serta distribusi bantuan di lapangan.
Para korban yang kehilangan tempat tinggal kini telah ditempatkan di pusat penampungan sementara atau Pusat Pemindahan Sementara (PPS) yang disediakan pemerintah setempat. KJRI KK juga menyiapkan layanan fasilitasi dokumen keimigrasian bagi WNI yang kehilangan dokumen penting akibat kebakaran.
“Fokus utama Pemerintah adalah memastikan keselamatan dan pendataan seluruh WNI yang terdampak,” ujar Heni.
Pemerintah turut mengimbau keluarga WNI di Indonesia yang memiliki kerabat di kawasan tersebut agar tetap tenang dan menunggu informasi resmi dari otoritas terkait. Peristiwa ini kembali menyoroti kerentanan kawasan permukiman padat di wilayah pesisir terhadap risiko kebakaran besar, terutama dengan keterbatasan akses dan infrastruktur penanggulangan bencana. []
Redaksi
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan