Sebanyak 3.420 mahasiswa dari sembilan perguruan tinggi akan menjalankan 28 tema pemberdayaan di 377 titik pada 10 kabupaten dan kota di Kaltim.
SAMARINDA – Sebanyak 3.420 mahasiswa dari sembilan perguruan tinggi negeri dan swasta di Kalimantan Timur (Kaltim) diberangkatkan untuk mengikuti Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kolaborasi 2026, Sabtu (11/07/2026). Ribuan mahasiswa tersebut akan melaksanakan pengabdian masyarakat di 377 titik yang tersebar pada 10 kabupaten dan kota di Kaltim untuk mendukung pembangunan desa berbasis pemberdayaan.
Pelepasan peserta KKN Kolaborasi 2026 berlangsung di Gedung Plenary Hall, Samarinda. Program tersebut menjadi wadah bagi mahasiswa untuk menerapkan ilmu yang diperoleh selama perkuliahan sekaligus membantu masyarakat menyelesaikan berbagai persoalan di wilayah penempatan.
Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kaltim bersama perguruan tinggi menyiapkan 28 tema pengabdian yang mencakup bidang pendidikan, kesehatan, kehutanan, perkebunan, pemberdayaan ekonomi masyarakat, pengelolaan lingkungan, dan sektor lain yang berkaitan dengan pembangunan desa.
Kepala Dinas (Kadis) Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintahan Desa (DPMPD) Kaltim, Siti Sugiyanti, mengatakan KKN Kolaborasi merupakan bentuk sinergi antara perguruan tinggi dan pemerintah daerah untuk mempercepat pembangunan berbasis pemberdayaan masyarakat.
“KKN Kolaborasi bukan sekadar program pengabdian yang dijalankan satu instansi, tetapi menjadi bentuk sinergi antara perguruan tinggi dan perangkat daerah dalam mendorong pembangunan berbasis pemberdayaan masyarakat,” ujar Siti kepada awak media.
Menurut Siti, program tersebut mulai dirancang sejak 2025. Pemprov Kaltim kemudian berkoordinasi dengan sejumlah perguruan tinggi dan organisasi perangkat daerah (OPD) untuk menentukan tema, lokasi, dan pola pendampingan bagi mahasiswa.
Tema yang disiapkan OPD disesuaikan dengan kebutuhan pembangunan daerah serta kompetensi akademik peserta. Setiap desa atau kelurahan akan memperoleh tiga tema berbeda berdasarkan kebutuhan wilayah dan pilihan kelompok mahasiswa yang ditempatkan di lokasi tersebut.
“Seluruh perangkat daerah telah memberikan tema terbaik yang disesuaikan dengan kapasitas mahasiswa agar mereka mampu berperan sebagai agen perubahan di tengah masyarakat,” kata Siti.
Pembagian tiga tema pada setiap lokasi diharapkan membuat program kerja mahasiswa lebih fokus, terarah, dan mampu memberikan manfaat nyata. Namun, peserta juga diminta tidak hanya terpaku pada tema yang telah ditentukan karena kondisi dan persoalan masyarakat dapat berbeda dengan perencanaan awal.
“Di lapangan tentu mahasiswa akan menghadapi berbagai persoalan masyarakat yang mungkin berada di luar tiga tema yang sudah ditentukan. Karena itu mereka harus siap beradaptasi dan memberikan solusi sesuai kondisi di desa,” jelas Siti.
Selama masa pelaksanaan KKN, mahasiswa akan didampingi dosen pembimbing lapangan, pemerintah desa, dan OPD yang menjadi mitra pada setiap tema kegiatan. Pendampingan dilakukan untuk memastikan program dapat dijalankan secara efektif dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
Pemprov Kaltim berharap KKN Kolaborasi 2026 tidak berhenti sebagai kegiatan akademik, tetapi menghasilkan program yang berkelanjutan, memperkuat pemberdayaan masyarakat, serta memberi pengalaman nyata kepada mahasiswa dalam menghadapi persoalan pembangunan di desa.
“Kami berharap adik-adik mahasiswa tidak hanya menggugurkan kewajiban akademik, tetapi benar-benar berkontribusi melalui tema ‘Sinergi Membangun Desa Menuju Generasi Emas’,” ujar Siti. []
Penulis: Guntur Riyadi | Penyunting: NUrsiah
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan