Temuan 59 bom rakitan di Mexico City memperkuat kewaspadaan aparat di tengah protes guru menjelang pembukaan Piala Dunia 2026.
MEXICO CITY – Temuan 59 bom rakitan di salah satu konvoi bus yang memasuki Mexico City meningkatkan perhatian aparat keamanan menjelang pembukaan Piala Dunia 2026, di tengah ancaman demonstrasi besar-besaran serikat guru yang menuntut kenaikan gaji dan reformasi pensiun.
Kepolisian Mexico City menyita puluhan pipa putih kecil bersumbu dari konvoi tersebut pada Senin (09/06/2026). Foto barang bukti itu kemudian diunggah di platform X, sebagaimana diberitakan Kompas, Selasa, (09/06/2026).
Temuan bom rakitan itu terjadi saat serikat guru mengancam menggelar aksi pada laga pembuka Piala Dunia 2026 antara Meksiko dan Afrika Selatan, Kamis 11 Juni 2026 jika pemerintah tidak merespons tuntutan mereka.
Presiden Meksiko Claudia Sheinbaum menegaskan pemerintah tetap mampu menjamin keamanan turnamen sepak bola terbesar dunia tersebut.
“Kami akan memastikan bahwa perayaan Piala Dunia berjalan dengan baik, dalam suasana damai dan tenang,” ujar Sheinbaum dalam konferensi pers hariannya, Senin.
Gelombang protes para guru telah mengubah situasi pusat kota. Kamp tenda berdiri di kawasan jantung Mexico City dan memicu kekhawatiran pelaku usaha karena wisatawan dinilai mulai menghindari area tersebut.
Pekan lalu, polisi membubarkan pengunjuk rasa dengan gas air mata dan peluru karet di luar alun-alun Zocalo. Kawasan itu disiapkan sebagai zona nonton bersama Piala Dunia 2026 dengan layar raksasa.
Sejumlah ruas jalan di sekitar alun-alun masih ditutup barikade logam. Sheinbaum menyebut barikade itu dipasang untuk mencegah provokasi.
Aksi protes juga diwarnai perusakan patung peringatan pemain bola di pusat kota. Selain guru, ratusan orang dari sekolah guru Ayotzinapa turut bergabung untuk menuntut pengusutan lebih serius atas hilangnya 43 mahasiswa pada 2014.
Dampak protes dirasakan warga dan pelaku usaha. Jonathan Herrera, seorang pelayan restoran berusia 31 tahun, mengaku akses ke tempat kerjanya terganggu akibat penutupan jalan dan kamp pengunjuk rasa.
“Akses ke restoran kami ditutup, orang-orang tidak datang, para wisatawan ketakutan,” kata Herrera kepada Agence France-Presse (AFP).
Meski demikian, tidak semua wisatawan menolak aksi tersebut. Heather Lutz, wisatawan asal Amerika Serikat (AS) berusia 64 tahun, menyatakan dukungan kepada pengunjuk rasa.
Bagi para guru, Piala Dunia 2026 menjadi momentum untuk menekan pemerintah agar memenuhi tuntutan mereka. Dinora Diaz, guru berusia 42 tahun, menilai perhatian dunia terhadap Meksiko dapat memperkuat posisi tawar pengunjuk rasa.
Di meja perundingan, pemerintah Sheinbaum mengusulkan pembentukan perusahaan milik negara untuk mengelola dana pensiun. Namun, pemerintah menolak pencabutan undang-undang pensiun yang berlaku karena dinilai membutuhkan biaya sekitar 400 juta dolar AS.
Serikat guru menolak proposal tersebut. Sekretaris Tata Kelola Pemerintahan Rosa Icela Rodriguez meminta para pemogok mencabut blokade agar hak berdemonstrasi tetap berjalan tanpa mengganggu aktivitas warga.
“Sangat penting bahwa pelaksanaan hak berdemonstrasi yang sah dapat berdampingan dengan hak-hak mereka yang tinggal dan beraktivitas di kota besar ini,” kata Rodriguez.
Meski dialog masih dibuka, kebuntuan negosiasi membuat situasi keamanan dan aktivitas publik di Mexico City tetap menjadi sorotan menjelang pembukaan Piala Dunia 2026. []
Redaksi
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan