Kampus Iran Meledak! Mahasiswa Turun, Bentrok Tak Terhindarkan

TEHERAN — Aksi demonstrasi mahasiswa kembali mengguncang ibu kota Iran pada Sabtu (22/02/2026). Unjuk rasa ini menjadi gelombang besar pertama sejak penindakan keras aparat bulan lalu yang menewaskan banyak orang dan memicu kemarahan luas.

Rekaman yang telah diverifikasi oleh BBC memperlihatkan ratusan mahasiswa berbaris di kampus Universitas Teknologi Sharif pada awal semester baru. Mereka membawa bendera nasional dan bergerak secara terorganisasi di dalam area kampus.

Dalam sejumlah video, massa terdengar meneriakkan slogan keras yang ditujukan kepada Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. “Matilah diktator!” teriak para demonstran secara serempak di tengah barisan.

Seorang mahasiswa yang ikut dalam aksi itu juga terdengar berteriak, “Kami tidak akan diam. Ini suara kami untuk kebebasan!”

Situasi berubah tegang ketika kelompok pendukung pemerintah mendekat. Adu mulut antara kedua kubu tak terhindarkan sebelum akhirnya terjadi dorong-dorongan hingga perkelahian singkat di dalam kampus.

Aksi duduk damai juga terekam di Universitas Shahid Beheshti. Di Universitas Teknologi Amir Kabir, mahasiswa kembali menyuarakan tuntutan perubahan. “Kebebasan adalah hak kami!” teriak massa dalam rekaman yang beredar.

Di Mashhad, mahasiswa melontarkan seruan senada. “Mahasiswa, bangkit dan suarakan hak-hak kalian!” terdengar dalam video yang diverifikasi.

Hingga Minggu (23/02/2026), belum ada keterangan resmi terkait jumlah peserta aksi yang diamankan. Seruan untuk melanjutkan demonstrasi dilaporkan terus beredar di kalangan mahasiswa.

Ketegangan di dalam negeri terjadi di tengah tekanan eksternal. Presiden Amerika Serikat saat itu, Donald Trump, sebelumnya menyatakan bahwa Washington tengah mempertimbangkan opsi militer terbatas terhadap Iran.

“Kita akan mengetahui dalam waktu sekitar sepuluh hari apakah kesepakatan tercapai atau langkah lain harus diambil,” ujar Trump kepada media.

Ia juga pernah menyampaikan dukungan moral kepada para demonstran dengan mengatakan, “Kami mendengar suara rakyat Iran.”

Sebelumnya, gelombang protes besar yang pecah bulan lalu bermula dari keluhan ekonomi dan berkembang menjadi demonstrasi terluas sejak Revolusi Islam 1979. Kini, kampus-kampus kembali menjadi titik api baru di tengah situasi politik dan geopolitik yang terus memanas. []

Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com