YERUSALEM — Ancaman baru kembali dilontarkan dari lingkaran pemerintahan Israel. Menteri Keuangan sayap kanan, Bezalel Smotrich, menyatakan Hamas berpotensi segera menerima ultimatum resmi untuk melucuti senjata. Jika diabaikan, militer Israel disebut siap mengambil alih seluruh Jalur Gaza.
Dalam wawancara dengan penyiar publik Kan, Smotrich mengungkapkan bahwa pemerintah tengah menyiapkan langkah tegas terhadap kelompok tersebut. Ia menyebut ultimatum bisa diumumkan dalam hitungan hari.
“Kami menilai dalam beberapa hari ke depan Hamas akan diberi batas waktu jelas untuk menyerahkan senjata dan menyetujui demiliterisasi total Gaza,” ujarnya.
Smotrich menegaskan, apabila tuntutan itu tidak dipenuhi, militer Israel akan bergerak dengan dukungan internasional. “Jika mereka menolak, Pasukan Pertahanan Israel akan memiliki legitimasi global serta dukungan Amerika Serikat untuk bertindak sendiri. Persiapan sudah dilakukan dan rencana operasional sedang dimatangkan,” katanya.
Pernyataan tersebut muncul di tengah fase kedua gencatan senjata yang dimediasi Washington. Pada tahap pertama, pasukan Israel mundur ke belakang garis demarkasi yang dikenal sebagai Garis Kuning, meski masih mempertahankan kendali atas lebih dari separuh wilayah Gaza.
Tahap lanjutan perjanjian itu secara resmi mencakup penarikan bertahap militer Israel dan pelucutan senjata Hamas sebuah poin yang sejak awal ditolak keras oleh kelompok tersebut.
Smotrich kembali menegaskan posisi pemerintahannya. “Bila Hamas tidak membubarkan diri, militer Israel pasti akan masuk dan mengambil alih Gaza,” ucapnya.
Ketika ditanya mengenai skema operasional, ia mengungkapkan bahwa terdapat beberapa opsi yang sedang dikaji. “Saat ini ada dua atau tiga alternatif yang sedang kami pertimbangkan,” katanya tanpa merinci lebih jauh.
Di sisi lain, proposal perdamaian yang digagas Presiden Amerika Serikat Donald Trump mencantumkan pembentukan Pasukan Stabilisasi Internasional (ISF) berkekuatan 20.000 personel dari sejumlah negara. Kehadiran pasukan asing itu diproyeksikan untuk menjaga stabilitas apabila kesepakatan damai berjalan.
Menanggapi kemungkinan tumpang tindih operasi dengan pasukan internasional, Smotrich menyiratkan keyakinannya bahwa Hamas tidak akan bertahan lama jika tekanan militer ditingkatkan. “Hamas akan mundur sangat cepat dan membiarkan militer kami masuk. Ini sudah dikoordinasikan dengan Amerika,” ujarnya.
Namun, ia juga melontarkan nada skeptis terhadap efektivitas pengerahan pasukan asing. “Sejauh ini saya belum melihat mereka bergerak secepat itu,” tambahnya.
Pernyataan keras dari pejabat senior Israel ini berpotensi memperuncing ketegangan di kawasan, terutama ketika proses gencatan senjata masih berlangsung rapuh. Ancaman pendudukan penuh Gaza pun kembali menjadi wacana yang memantik perhatian internasional. []
Redaksi
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan