NUNUKAN – Aroma persaingan mulai terasa. Pemerintah Kabupaten Nunukan melalui Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) resmi memanaskan mesin seleksi Calon Pasukan Pengibar Bendera (CAPASKI) Tahun Anggaran 2026. Proses ini menjadi pintu awal bagi pelajar terbaik untuk mengibarkan Sang Merah Putih pada peringatan HUT ke-81 Republik Indonesia, 17 Agustus 2026 mendatang.
Bagi Pemkab Nunukan, seleksi ini bukan sekadar agenda rutin tahunan. Lebih dari itu, CAPASKI diposisikan sebagai ruang pembentukan karakter, disiplin, serta penguatan ideologi kebangsaan di kalangan generasi muda.
Kepala Bidang Penguatan Ideologi Pancasila dan Karakter Kebangsaan Kesbangpol Nunukan, Emiliana Nata Koten, menegaskan bahwa proses penjaringan dilakukan secara ketat dan berjenjang.
“CAPASKI bukan hanya soal baris-berbaris atau tampil gagah saat upacara. Kami mencari pelajar yang berintegritas, memahami nilai Pancasila, serta memiliki karakter kepemimpinan yang kuat,” ungkap Emiliana, sebagaimana dilansir laman resmi Pemerintah Kabupaten Nunukan, Senin (23/02/2026).
Ia menjelaskan, tahapan diawali dengan sosialisasi ke SMA/sederajat guna memastikan siswa memahami seluruh persyaratan dan komitmen yang harus dijalani. Pendaftaran serta seleksi administrasi dijadwalkan berlangsung pada Maret 2026.
Setelah itu, peserta akan menghadapi rangkaian tes yang cukup menguras energi dan mental, mulai dari seleksi Pembinaan Ideologi Pancasila (PIP), Tes Intelegensia Umum (TIU), parade, hingga Peraturan Baris Berbaris (PBB) sepanjang Maret sampai April. Tahap berikutnya meliputi tes kebugaran (samapta), seleksi kepribadian, hingga pengumuman akhir pada April–Mei 2026.
Mereka yang lolos seleksi akhir akan digembleng dalam pendidikan dan pelatihan intensif pada Juli hingga Agustus 2026 sebelum bertugas pada momen sakral peringatan kemerdekaan.
Persyaratan administrasi pun tak sederhana. Calon peserta wajib menyiapkan dokumen lengkap, mulai dari kartu keluarga, surat izin sekolah, persetujuan orang tua/wali, surat pernyataan kesediaan mematuhi aturan Paskibraka, hingga surat keterangan sehat. Nilai rapor kelas X minimal berkategori baik juga menjadi syarat mutlak.
Berkas dimasukkan ke dalam map berwarna hijau untuk putra dan merah untuk putri serta diunggah dalam format PDF melalui aplikasi pendaftaran. Ketelitian menjadi poin penting sejak tahap awal.
Untuk persyaratan fisik, tinggi badan putra ditetapkan minimal 165 cm dan maksimal 180 cm, sedangkan putri minimal 160 cm dan maksimal 175 cm. Peserta harus merupakan WNI, siswa kelas X saat seleksi dan duduk di kelas XI pada 17 Agustus 2026, sehat jasmani-rohani, berkepribadian baik, serta belum pernah menjadi Paskibraka tingkat nasional, provinsi, maupun kabupaten.
Emiliana menekankan bahwa mereka yang terpilih akan memikul tanggung jawab moral sebagai representasi generasi muda Nunukan.
“Mereka yang lolos seleksi akan menjadi wajah pelajar Nunukan. Bukan hanya disiplin di lapangan, tetapi juga mampu menjadi contoh di sekolah dan lingkungan masyarakat,” tegasnya.
Ia menambahkan, peran sekolah dan orang tua sangat menentukan kesiapan mental peserta. Dukungan dan pembinaan sejak dini dinilai menjadi faktor penting dalam melahirkan CAPASKI yang tangguh dan berkarakter.
Menurutnya, program ini merupakan investasi jangka panjang dalam membangun karakter kebangsaan sekaligus menyiapkan calon pemimpin masa depan daerah.
“Melalui seleksi yang terukur dan objektif, kami ingin memastikan yang terpilih benar-benar siap secara fisik, mental, dan ideologi untuk mengemban tugas kehormatan tersebut,” pungkasnya.
Dengan dimulainya tahapan ini, persaingan menuju barisan pengibar bendera di Nunukan resmi dimulai. Hanya pelajar terbaik yang akan berdiri tegap di bawah Sang Merah Putih pada 17 Agustus 2026. []
Redaksi
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan