SAMARINDA – Mobil operasional gubernur senilai Rp 8,5 miliar tengah menjadi sorotan, namun menurut Sekretaris Daerah Kaltim, Sri Wahyuni, kendaraan mewah itu justru penting untuk menghadapi medan ekstrem di provinsi yang luas dan beragam.
“Kaltim ini bukan wilayah rata. Banyak jalur tanah, hutan, dan akses yang belum memadai. Gubernur sering turun langsung ke lapangan, bahkan ke daerah yang tidak mudah dilewati kendaraan biasa,” kata Sri saat ditemui Senin (23/02/2026).
Sri mencontohkan pengalaman rombongan gubernur saat meninjau daerah Kesotek Bongan. “Beliau ingin memastikan kondisi lapangan sendiri, sampai mobil yang dibawa sebelumnya tidak sanggup menembus jalur hutan. Akhirnya harus ganti kendaraan,” ujarnya.
SUV Hybrid 2996 cc yang baru dibeli dipandang mendukung operasional lapangan sekaligus kegiatan protokoler. “Kendaraan ini bukan soal kenyamanan. Ini soal memastikan gubernur bisa menilai kondisi jalan, proyek, dan potensi ekonomi secara langsung,” tambahnya.
Menurut Sri, pengalaman serupa juga terjadi di kunjungan lain, di mana rombongan terpaksa mengganti mobil karena medan yang sulit dilalui. “Kalau kendaraan tidak memadai, penilaian lapangan bisa terhambat, padahal keputusan pembangunan harus didasari kondisi nyata,” ujar Sri.
Sekda menekankan bahwa mobil operasional ini juga terkait strategi membuka konektivitas wilayah, termasuk jalur baru yang menghubungkan Kalimantan Timur dengan Kalimantan Utara dan Ibu Kota Nusantara (IKN). Dengan akses lebih lancar, distribusi barang, mobilitas warga, dan pengembangan ekonomi lokal diperkirakan makin cepat.
“Intinya, kendaraan ini membantu gubernur memastikan pembangunan dan konektivitas berjalan efektif. Fokusnya memang untuk lapangan, bukan kemewahan,” pungkas Sri. []
Redaksi
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan