KUTAI KARTANEGARA – Di tengah tantangan ekonomi yang masih dirasakan pelaku usaha kecil pascapandemi Covid-19, sejumlah pelaku UMKM lokal tetap menunjukkan daya tahan. Salah satunya Amplang Queen, usaha rumahan yang memproduksi amplang khas Kalimantan dan telah bertahan sekitar lima tahun sejak dirintis pada masa pandemi.
Usaha ini dikelola langsung oleh Agustina di kediamannya di wilayah Handil, Muara Jawa, Kabupaten Kutai Kartanegara. Ia memulai produksi amplang pada 2021 sebagai upaya menjaga stabilitas ekonomi keluarga di tengah situasi sulit akibat pandemi. Kini, usahanya masih aktif berproduksi dan melayani permintaan pasar lokal hingga luar daerah.
Dalam wawancara pada Rabu (25/02/2026), Agustina menjelaskan seluruh proses produksi dilakukan secara mandiri. Mulai dari pengolahan bahan baku, pencampuran adonan, pencetakan, penggorengan, hingga pengemasan dan pemasaran, semuanya dikerjakan sendiri dari rumahnya.
“Usaha ini sudah berjalan sekitar lima tahun sejak pandemi. Sampai sekarang masih saya kerjakan sendiri,” ujar Agustina.

Amplang yang diproduksi menggunakan bahan baku utama ikan bandeng, yang dipilih karena mudah diperoleh dan memiliki cita rasa gurih yang khas. Dalam satu kali produksi, Agustina membutuhkan modal sekitar Rp350 ribu untuk pembelian bahan baku seperti ikan, tepung, bumbu, minyak goreng, serta kebutuhan kemasan.
Proses produksi dapat dilakukan dua hingga tiga kali dalam sehari, tergantung ketersediaan bahan baku dan jumlah pesanan yang masuk. Setiap satu kali produksi mampu menghasilkan sekitar 30 pouch amplang ukuran 100 gram atau setara dalam variasi ukuran lainnya.
Dari pola produksi tersebut, Amplang Queen mampu mencatatkan keuntungan bersih sekitar Rp2 juta hingga Rp3 juta per bulan. Keuntungan ini dapat meningkat pada momen tertentu, seperti hari raya atau saat permintaan dari luar daerah bertambah.
Amplang Queen menghadirkan dua varian rasa, yakni original dan pedas daun jeruk. Untuk varian original, tersedia dalam tiga pilihan kemasan, yaitu 100 gram dengan harga Rp15 ribu, 250 gram seharga Rp35 ribu, dan 500 gram seharga Rp70 ribu.
Sementara itu, varian pedas daun jeruk tersedia dalam empat ukuran, yakni 65 gram dengan harga Rp15 ribu, 100 gram Rp16 ribu, 250 gram Rp40 ribu, dan 500 gram Rp80 ribu. Variasi ukuran dan harga ini disesuaikan dengan kebutuhan konsumen, mulai dari pembelian untuk konsumsi pribadi hingga oleh-oleh dalam jumlah besar.
Dari sisi pemasaran, produk Amplang Queen tidak hanya dipasarkan di wilayah Muara Jawa, tetapi juga telah menjangkau Balikpapan dan Samarinda. Strategi pemasaran dilakukan secara sederhana dengan memanfaatkan media sosial serta promosi dari mulut ke mulut melalui jaringan pertemanan.
“Promosi masih lewat media sosial dan dari teman ke teman,” jelasnya.
Meski mampu bertahan dan berkembang, Agustina mengakui masih menghadapi sejumlah kendala, terutama keterbatasan peralatan produksi dan modal usaha. Peralatan yang masih sederhana membuat kapasitas produksi belum bisa ditingkatkan secara signifikan.
“Kalau alat produksi lebih lengkap dan modal bertambah, produksi tentu bisa ditingkatkan,” ungkapnya.
Keterbatasan tersebut juga berdampak pada peluang ekspansi pasar yang belum bisa dimaksimalkan. Padahal, permintaan amplang sebagai camilan khas Kalimantan cukup stabil, terutama untuk kebutuhan oleh-oleh.
Keberadaan Amplang Queen menjadi contoh nyata ketahanan pelaku UMKM lokal dalam menghadapi dinamika ekonomi. Dari rumah sederhana di Muara Jawa, usaha ini mampu menghasilkan jutaan rupiah setiap bulan sekaligus membuka peluang pengembangan usaha berbasis pangan khas daerah.
Dengan dukungan permodalan, peningkatan kapasitas produksi, serta akses pasar yang lebih luas, usaha seperti Amplang Queen dinilai memiliki potensi untuk tumbuh lebih besar dan berkontribusi terhadap penguatan ekonomi masyarakat di tingkat lokal.[]
Penulis: Anggi Triomi | Penyunting: Nursiah
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan