Iran Tutup Selat Hormuz Usai Serangan AS-Israel

TEHERAN – Ketegangan di Timur Tengah meningkat drastis setelah Garda Revolusi Iran (IRGC) menutup akses Selat Hormuz, jalur vital pengiriman minyak dan gas dunia. Keputusan ini diambil menyusul serangan militer gabungan Amerika Serikat dan Israel yang menghantam sejumlah lokasi di Iran pada Sabtu (28/02/2026).

Media lokal Iran, Tasnim, melaporkan bahwa langkah penutupan tersebut dilakukan karena kondisi Selat Hormuz dianggap “tidak aman” akibat serangan militer yang sedang berlangsung. “Kami telah memperingatkan seluruh kapal dan tanker bahwa situasi saat ini sangat berbahaya untuk melintasi selat,” kata pernyataan yang dirilis IRGC, dikutip AFP.

Langkah ini praktis menutup jalur laut yang menghubungkan Teluk Persia dan Samudra Hindia, yang selama ini menjadi rute utama ekspor minyak dan gas dari negara-negara Timur Tengah. Posisi strategis selat ini, diapit Iran di utara dan Oman serta Uni Emirat Arab di selatan, membuat setiap gangguan berpotensi mengguncang pasar energi global.

Iran merupakan salah satu produsen minyak terbesar dunia, masuk dalam jajaran 10 besar penghasil minyak global. Penutupan selat ini diprediksi dapat memicu lonjakan harga minyak internasional, terutama bagi negara-negara yang sangat bergantung pada impor energi dari wilayah Teluk Persia.

Para pelaku industri energi sudah meningkatkan kesiagaan sejak serangan mendadak Israel pada Juni tahun lalu, dan kini kekhawatiran akan gangguan distribusi minyak kembali muncul. Sebagian pengusaha energi memperingatkan bahwa ketidakpastian ini bisa memperlambat pengiriman minyak dan gas, sekaligus menambah ketegangan geopolitik di kawasan.

Serangan Sabtu lalu tidak hanya menimbulkan kerusakan material, tetapi juga korban jiwa besar, tercatat 201 orang tewas dan lebih dari 700 lainnya mengalami luka-luka. Pejabat tinggi Iran yang tewas antara lain Menteri Pertahanan Amir Hatami dan Komandan Angkatan Bersenjata IRGC, Mohammed Pakpour.

AS dan Israel menyatakan akan terus melancarkan serangan terhadap Iran, dengan target 30 pejabat negara, termasuk presiden dan kepala militer. Situasi ini menimbulkan kecemasan global, karena konflik berskala besar di Teluk Persia berpotensi mengganggu stabilitas energi dan ekonomi dunia. []

Redaksi4

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com