WASHINGTON – Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran melonjak tajam setelah operasi militer gabungan bersama Israel bertajuk Epic Fury menghantam sejumlah target strategis di Iran.
Serangan tersebut langsung memicu respons dari Teheran. Iran dilaporkan membalas dengan meluncurkan rudal serta drone ke titik-titik yang berkaitan dengan keberadaan militer Amerika.
Situasi semakin mengguncang ketika pada (01/03/2026), Iran mengumumkan wafatnya pemimpin tertinggi mereka, Ali Khamenei, yang disebut menjadi korban dalam rangkaian serangan.
Melalui pernyataan resmi, Korps Garda Revolusi Islam menegaskan sikap keras. “Kami tidak akan membiarkan darah pemimpin bangsa ini tumpah tanpa konsekuensi. Tindakan balasan akan diberikan kepada pihak yang bertanggung jawab,” demikian pernyataan militer Iran.
Iran juga menyatakan bahwa operasi pembalasan sedang disiapkan. “Serangan berikutnya akan diarahkan pada kepentingan militer musuh dengan kemampuan persenjataan yang lebih presisi,” lapor media pemerintah Iran mengutip pejabat militer.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan bahwa langkah balasan merupakan hak negara. “Republik Islam Iran memiliki kewajiban untuk menuntut pertanggungjawaban atas tragedi ini dan akan menggunakan seluruh kapasitasnya untuk melaksanakannya,” ujarnya. Ia juga menyebut kematian Khamenei sebagai ujian besar bagi dunia Islam.
Presiden Donald Trump merespons ancaman dari Teheran dengan peringatan terbuka. “Jika Iran memilih untuk meningkatkan serangan, maka Amerika Serikat akan menjawab dengan kekuatan yang jauh lebih besar,” kata Trump dalam pernyataan publiknya.
Sementara itu, Menteri Pertahanan Pete Hegseth menggambarkan operasi Epic Fury sebagai misi udara berskala besar. “Operasi ini dirancang untuk menghancurkan kemampuan strategis Iran, termasuk sistem pertahanan udara dan fasilitas rudal,” jelasnya.
Komando militer kawasan, CENTCOM, menyebut serangan dimulai pada 28 Februari 2026 dengan menyasar fasilitas komando serta lokasi peluncuran rudal yang dianggap berpotensi mengancam stabilitas kawasan.
Washington juga menegaskan bahwa langkah tersebut merupakan respons atas ancaman yang telah berkembang sebelumnya. []
Redaksi
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan