UMKM cake gula merah di Tenggarong tetap bertahan sejak 2010 dengan mengandalkan cita rasa tradisional, meski menghadapi tantangan kenaikan harga bahan baku.
KUTAI KARTANEGARA – Usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) cake gula merah milik Desy Marlina di Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), terus bertahan sejak 2010 dengan mengandalkan cita rasa tradisional sebagai daya tarik utama. Meski sempat berhenti beroperasi pada 2018–2019, usaha tersebut kembali berjalan sejak 2020 dan kini dipasarkan secara langsung maupun daring.
Desy Marlina menuturkan, usaha cake gula merah telah dirintis sejak lama sebelum akhirnya dijalankan secara konsisten pada 2010. Namun, perjalanan usahanya tidak selalu berjalan mulus.
“Jualan ini mulai 2010 sampai sekarang. Sempat berhenti sekitar 2018 atau 2019, lalu mulai lagi pada 2020,” ujarnya saat ditemui di kediamannya, Rabu (25/03/2026).
Ia menjelaskan, tantangan terbesar dalam menjalankan usaha ini adalah fluktuasi harga bahan baku utama, yakni gula merah. Kenaikan harga dinilai cukup memengaruhi biaya produksi.
“Kalau harga gula merah naik, itu yang paling terasa. Sekarang saja di kisaran Rp40.000, jadi cukup memengaruhi produksi,” katanya.
Menurut Desy, untuk menjaga kualitas rasa, ia tetap menggunakan gula merah asli berbentuk balok yang dibeli langsung dari pasar. Hal ini menjadi pembeda produknya dibandingkan cake pada umumnya yang menggunakan gula putih dengan berbagai varian rasa.
“Kalau yang saya buat ini memang fokus gula merah, karena tidak banyak yang pakai. Biasanya orang pakai gula putih dengan rasa moka atau pandan,” jelasnya.
Meski memiliki beberapa varian lain, ia mengakui cake gula merah tetap menjadi produk utama karena paling diminati pelanggan. Respons konsumen terhadap produk tersebut juga dinilai positif.
“Pembeli bilang teksturnya lembut, rasanya enak, dan manisnya pas. Jadi mereka sering beli ulang,” ujarnya.
Produk cake gula merah tersebut dijual dengan harga mulai Rp30.000 hingga Rp70.000 per kemasan. Ukuran kecil dengan harga Rp30.000 menjadi yang paling diminati karena sering dijadikan buah tangan.
Dalam hal pemasaran, Desy memanfaatkan platform WhatsApp dan Facebook, selain melayani pembelian langsung di rumah produksi yang berlokasi di Jalan Mangkuraja, Gang Bentian, Blok B Nomor 111, Tenggarong.
Ke depan, ia berharap usahanya dapat terus berkembang dan semakin dikenal masyarakat luas, khususnya sebagai pilihan kue tradisional dengan cita rasa khas gula merah. []
Penulis: M. Reza Danuarta | Penyunting: Nursiah
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan