Sekjen PBB memperingatkan eskalasi konflik Timur Tengah berisiko memicu krisis kemanusiaan dan mengguncang ekonomi global.
NEW YORK – Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (Sekjen PBB) Antonio Guterres memperingatkan konflik yang terus meluas di Timur Tengah berpotensi memicu krisis kemanusiaan dan guncangan ekonomi global, seiring meningkatnya eskalasi perang di sejumlah negara kawasan tersebut.
Pernyataan itu disampaikan Guterres menyusul perkembangan situasi yang kian memburuk, termasuk meningkatnya korban jiwa dan meluasnya wilayah konflik. Ia menilai kondisi saat ini telah melampaui batas yang sebelumnya diperkirakan oleh para pemimpin dunia.
“Konflik ini telah melampaui batas yang bahkan dibayangkan para pemimpin dunia,” kata Guterres sebagaimana dilansir AFP, Rabu, (25/03/2026).
“Ini sudah terlalu jauh,” tegasnya.
Menurut Guterres, dunia kini menghadapi risiko perang yang semakin meluas, disertai meningkatnya penderitaan manusia serta ancaman serius terhadap stabilitas ekonomi global. Ia pun menyerukan kepada seluruh pihak yang terlibat agar segera menahan diri dan membuka ruang dialog guna mencegah eskalasi lebih lanjut.
Ketegangan di kawasan Timur Tengah terus meningkat, terutama setelah konflik yang melibatkan Iran meluas ke negara lain. Israel dilaporkan menggencarkan serangan ke wilayah Lebanon dalam beberapa waktu terakhir.
Situasi di Lebanon memburuk sejak 2 Maret 2026, ketika kelompok Hizbullah meluncurkan serangan roket ke wilayah Israel. Serangan tersebut diklaim sebagai respons atas pembunuhan pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dalam operasi militer yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel.
Sebagai balasan, Israel melancarkan serangan udara besar-besaran yang menargetkan sejumlah wilayah di Lebanon, termasuk kawasan permukiman. Selain itu, pasukan darat juga dikerahkan ke area perbatasan untuk memperluas operasi militer.
Data dari Kementerian Kesehatan Lebanon menunjukkan dampak signifikan dari konflik tersebut. Dalam 24 jam terakhir, sedikitnya 33 orang dilaporkan tewas dan 90 lainnya luka-luka. Secara keseluruhan, jumlah korban tewas telah mencapai 1.072 orang, sementara 2.966 orang lainnya mengalami luka-luka.
Dalam laporan rinci, disebutkan bahwa sedikitnya 17 orang tewas dan 20 lainnya luka-luka pada Selasa (24/03/2026) akibat serangan udara dan tembakan artileri yang menghantam bangunan permukiman di berbagai wilayah Lebanon.
Kondisi ini menunjukkan konflik yang tidak hanya melibatkan aktor negara, tetapi juga kelompok bersenjata, sehingga memperumit upaya penyelesaian damai dan meningkatkan risiko ketidakstabilan kawasan secara luas.[]
Penulis: Redaksi
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan