AS Tahan Serangan, Trump Beri Waktu Iran hingga 6 April

Penundaan serangan AS terhadap fasilitas energi Iran membuka ruang diplomasi di tengah ketegangan Selat Hormuz.

WASHINGTON DC – Pemerintah Amerika Serikat (AS) menunda rencana serangan terhadap fasilitas pembangkit listrik Iran selama 10 hari, seiring berlangsungnya pembicaraan diplomatik antara kedua negara yang diklaim menunjukkan perkembangan positif.

Penundaan tersebut disampaikan Presiden AS Donald Trump setelah menerima permintaan dari Pemerintah Iran. Keputusan ini diambil di tengah meningkatnya ketegangan terkait ancaman terhadap jalur strategis Selat Hormuz.

“Sesuai permintaan Pemerintah Iran, mohon izinkan pernyataan ini untuk menyatakan bahwa saya menunda periode penghancuran Pembangkit Energi selama 10 hari hingga Senin, 6 April 2026, pukul 20.00, Waktu Bagian Timur,” kata Donald Trump melalui platform media sosial miliknya, sebagaimana dilansir Al Jazeera, Jumat (27/03/2026).

Trump menegaskan bahwa proses negosiasi antara AS dan Iran masih berlangsung dan menunjukkan kemajuan signifikan. “Pembicaraan sedang berlangsung dan, terlepas dari pernyataan yang salah yang bertentangan oleh Media Berita Palsu, dan lainnya, pembicaraan berjalan sangat baik,” sambungnya.

Keputusan ini menandai perubahan sikap dari sebelumnya, ketika Trump sempat memberikan ultimatum 48 jam kepada Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz atau menghadapi serangan militer terhadap infrastruktur energi negara tersebut.

Selanjutnya, tenggat waktu itu sempat diperpanjang selama lima hari sebelum akhirnya kembali ditunda hingga total 10 hari. Langkah tersebut dinilai sebagai upaya memberi ruang lebih luas bagi jalur diplomasi.

Meski demikian, situasi di kawasan tetap menjadi perhatian global mengingat Selat Hormuz merupakan jalur vital distribusi energi dunia. Ketegangan yang terjadi berpotensi memengaruhi stabilitas ekonomi global apabila konflik kembali meningkat.

Penundaan ini sekaligus mencerminkan dinamika hubungan AS dan Iran yang masih diwarnai tarik ulur antara tekanan militer dan upaya diplomatik dalam menyelesaikan konflik yang tengah berlangsung. []

Penulis: Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com