Harga Plastik Naik 100%, UMKM Paser Terpaksa Naikkan Harga Jual

Kenaikan harga kemasan plastik pasca-Lebaran memaksa pelaku UMKM di Paser menaikkan harga jual dan mencari alternatif kemasan.

PASER
– Kenaikan harga kemasan plastik hingga 25 persen sampai 100 persen pasca-Lebaran memukul pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Kabupaten Paser, Kalimantan Timur (Kaltim). Dampaknya, sejumlah pedagang di Tanah Grogot terpaksa menaikkan harga jual untuk menutupi lonjakan biaya produksi.

Salah satu pelaku UMKM, penjual bubur campur di Tanah Grogot, Bu Joko, mengaku kenaikan harga plastik membuat modal usaha membengkak sehingga harga jual tidak bisa dipertahankan.

“Alhamdulillah kalau pembeli tetap pengertian. Karena memang kenaikan bahan baku terutama kemasan plastik ini yang membuat modal jadi membengkak”, ujar Bu Joko saat ditemui di sela-sela jualannya, Kamis (16/04/2026).

Sebelumnya, ia menjual bubur campur seharga Rp10.000 per cup. Namun, setelah harga kemasan plastik naik, harga jual meningkat menjadi Rp13.000 per cup. Meski demikian, sebagian pelanggan dinilai masih memahami kondisi tersebut.

Kondisi serupa juga dialami pedagang lain di Tanah Grogot. Salah satu penjual aneka sayur masak, Sri, menyebut kenaikan harga plastik sangat berdampak karena hampir seluruh produknya menggunakan kemasan tersebut.

“Terutama memang karena kemasan plastik yaa mba. Apalagi kita jualan sayur ini membungkusnya dengan kemasan plastik, jadi terasa sekali (efek kenaikannya). Akhirnya mau nggk mau, kita naikkan harga jualnya”, ungkap mba Sri.

Menanggapi kondisi tersebut, Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, dan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (Disperindagkop UMKM) Paser, Yusuf, mengatakan pemerintah daerah tidak dapat mengintervensi langsung harga plastik karena merupakan produk industri pabrik.

“terkait kenaikan harga karena ini barang pabrik jadi kita tidak bisa intervensi langsung. Kalaupun misal ada pengadaan kemudian di suplai ke UMKM tentu butuh penganggaran dan tidak bisa kita lakukan saat ini”, ungkap Yusuf.

Sebagai solusi, Disperindagkop UMKM Paser mendorong pelaku UMKM mencari alternatif kemasan ramah lingkungan, seperti kertas maupun daun, yang dinilai lebih ekonomis dan sehat.

“Dibandingkan plastik, bahan organik ini juga dinilai lebih terjangkau dan tidak memiliki dampak kesehatan yang merugikan”, imbuhnya.

Selain itu, pemerintah juga mengimbau masyarakat untuk berperan aktif mengurangi penggunaan plastik dengan membawa tas belanja sendiri atau memilih makan di tempat.

“Jadi kalau belanja usahakan membawa tas atau kantong belanja sendiri. Atau mau jajan, mau makan, usahakan makan di tempat untuk mengurangi penggunaan kemasan,” Pungkasnya.

Disperindagkop UMKM Paser berharap sinergi antara pelaku UMKM dan konsumen dalam mengurangi ketergantungan pada plastik dapat membantu menekan dampak kenaikan harga sekaligus mendorong penggunaan kemasan yang lebih ramah lingkungan. []

Penulis: Wiwik Rahmawati | Penyunting: Nursiah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com