Bangkit dari Mati Suri, BUMDes Krayan Panen Perdana 1.000 Bebek

Pemanfaatan Dana Desa melalui program ketahanan pangan mendorong BUMDes Krayan Bahagia bangkit dan sukses memulai usaha budidaya bebek pedaging.

PASER – Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Krayan Bahagia berhasil menggelar panen perdana bebek pedaging setelah bangkit dari kondisi mati suri pada 2025. Kebangkitan ini ditopang oleh penyertaan modal dari Dana Desa melalui program ketahanan pangan, yang kini mulai menunjukkan hasil nyata bagi perekonomian desa.

Direktur BUMDes Krayan Bahagia, Saiful Anwar, menjelaskan bahwa dana ketahanan pangan sebesar 20 persen dari Dana Desa dialokasikan sebagai penyertaan modal bagi BUMDes, dengan mekanisme pengajuan proposal yang harus disetujui melalui musyawarah desa.

“Untuk jenis usaha ketahanan pangan yang akan dilaksanakan, juga harus disepakati bersama. Jadi dana ini khusus untuk pemeliharaan pangan seperti tanaman hortikultura, ternak bebek, ayam petelur, atau kebun jagung”, papar Saiful saat dihubungi melalui telepon, Sabtu (18/4/2026).

Menurutnya, pemilihan budidaya bebek pedaging didasarkan pada analisis kebutuhan pasar lokal yang masih minim pasokan. Selama ini, kebutuhan bebek pedaging di wilayah tersebut dipenuhi dari luar daerah seperti Surabaya dan Banjar.

“Kemudian setelah kita melihat adanya potensi itu, kita juga langsung mencari pasar sasaran. Alhamdulillah sekarang sudah ada kontrak dengan beberapa rumah makan dengan permintaan rutin 15 ekor per tiga hari”, jelas Saiful.

Saat ini, populasi bebek pedaging yang dikelola BUMDes Krayan Bahagia mencapai sekitar 1.000 ekor, dengan sistem panen bertahap setiap tiga hari untuk menjaga kestabilan pasokan pasar. Dari sisi teknis, perawatan bebek tergolong relatif mudah, dimulai dari fase penetasan menggunakan inkubator bersuhu 29–31 derajat Celsius selama 20 hari, sebelum dipindahkan ke kandang pembesaran.

“Dari bibit bebek tadi, biasanya usia 60 hari sudah bisa panen, dengan kriteria berat bebek 1,2 hingga 1,5 kilogram per ekor”, imbuh Saiful.

Budidaya bebek tersebut dilakukan di kandang berukuran 8 x 14 meter yang berada di area kebun desa seluas tiga hektare, dengan kapasitas maksimal hingga 2.000 ekor. Saat ini, target produksi ditetapkan sebanyak 1.200 ekor dengan harga jual berkisar antara Rp50 ribu hingga Rp60 ribu per ekor, tergantung kesepakatan pasar.

“Untuk sekarang targetnya 1200 ekor. Adapun untuk harga berkisar 50 hingga 60 ribu tergantung kesepakatan awal”, tambahnya.

Ke depan, pengelolaan usaha ini tidak hanya dilakukan oleh pengurus BUMDes, tetapi juga akan melibatkan masyarakat desa melalui pelatihan dan pendampingan.

“Kita juga sudah melakukan riset dan pelatihan budidaya di Banjar untuk mempelajari teknik beternak bebek. Pelatihan tentang pakan dan penanganan bebek terutama saat hujan juga kita bagikan kepada warga desa”, pungkasnya.

Program budidaya bebek pedaging ini diharapkan tidak hanya meningkatkan kapasitas produksi pangan desa, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru serta meningkatkan keterampilan masyarakat dalam sektor peternakan. []

Penulis: Wiwik Rahmawati | Penyunting: Nursiah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com