BONTANG – Penurunan signifikan kasus kebakaran di Kota Bontang, Kalimantan Timur (Kaltim), dalam dua tahun terakhir belum sepenuhnya menghilangkan ancaman di kawasan padat penduduk, sehingga Pemerintah Kota (Pemkot) Bontang menekankan pentingnya kewaspadaan dan pencegahan berbasis masyarakat.
Wakil Wali Kota (Wawali) Bontang Agus Haris menyebut sejumlah wilayah seperti Berbas Pantai, Bontang Kuala, dan Loktuan masih tergolong rawan kebakaran. Kondisi permukiman yang padat serta aktivitas warga yang tinggi dinilai menjadi faktor utama yang membuat potensi kebakaran tetap tinggi meskipun angka kejadian menurun.
“Penurunan angka kebakaran patut kita syukuri. Tapi bukan berarti kita boleh lengah,” kata Agus saat peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan, Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP), serta Perlindungan Masyarakat (Linmas), Rabu (22/04/2026).
Data Pemkot Bontang menunjukkan, jumlah kejadian kebakaran pada 2024 tercatat sebanyak 112 kasus, kemudian turun menjadi 56 kasus pada 2025. Penurunan hingga 50 persen ini disebut sebagai hasil kolaborasi antara pemerintah, petugas lapangan, dan meningkatnya kesadaran masyarakat, sebagaimana diberitakan Kaltimpost, Rabu (22/04/2026).
Meski demikian, karakter kebakaran di kawasan padat memiliki risiko yang lebih kompleks. Di wilayah pesisir dan permukiman berhimpitan, api cenderung lebih cepat menyebar dan sulit dikendalikan sehingga berpotensi menimbulkan dampak yang lebih besar.
Agus menegaskan, upaya pencegahan menjadi kunci utama dalam menekan risiko kebakaran, terutama melalui edukasi kepada masyarakat terkait penggunaan instalasi listrik yang aman serta larangan membakar sampah sembarangan.
“Respons awal yang tepat sering kali menjadi penentu besar kecilnya dampak yang ditimbulkan,” ujarnya.
Dalam penanganan kebakaran, sinergi antara pemadam kebakaran, Satpol PP, dan Linmas dinilai sangat penting. Pemadam kebakaran bertugas menangani kondisi darurat, Satpol PP memastikan kepatuhan terhadap aturan, sementara Linmas berperan sebagai perpanjangan tangan pemerintah di tingkat masyarakat.
Tema peringatan tahun ini, “Mengabdi Untuk Keselamatan Negeri” dan “Trantibumlinmas Tangguh untuk Pembangunan Berkelanjutan”, mencerminkan pendekatan kolaboratif dalam membangun sistem kesiapsiagaan yang melibatkan seluruh elemen.
Dari sisi kelembagaan, Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Bontang juga mencatat capaian dengan masuk tiga besar tercepat dalam pelaporan data kebakaran secara nasional pada 2025. Hal ini menunjukkan adanya peningkatan dalam sistem respons dan pengelolaan informasi kebencanaan.
Ke depan, Pemkot Bontang menilai tantangan utama tidak hanya pada penanganan kebakaran, tetapi juga menjaga konsistensi pencegahan di tingkat masyarakat. Peran aktif warga dinilai menjadi faktor penentu dalam menekan potensi kebakaran yang kerap dipicu oleh aktivitas sehari-hari.
“Kesiapsiagaan itu dimulai dari diri sendiri dan lingkungan terdekat. Jika semua bergerak bersama, risiko bisa ditekan,” kata Agus Haris. []
Redaksi
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan