JAKARTA – Stabilitas kawasan Timur Tengah kembali menjadi sorotan setelah Iran menuding Amerika Serikat (AS) melanggar kesepakatan gencatan senjata yang masih berlaku sejak 7 April 2026. Tuduhan itu muncul menyusul dugaan serangan terhadap kapal tanker minyak Iran di jalur strategis Selat Hormuz.
Pemerintah Iran menyatakan kapal tanker tersebut sedang berlayar dari wilayah pesisir Jask menuju Selat Hormuz ketika menjadi target serangan. Selain itu, satu kapal lain yang berada di sekitar Pelabuhan Fujairah, Uni Emirat Arab (UEA), juga disebut terkena dampak serangan.
Dalam pernyataan yang dikutip televisi pemerintah Iran, AS disebut turut melancarkan serangan di sejumlah lokasi lain di kawasan selatan. Iran juga menuduh Washington bekerja sama dengan beberapa negara di kawasan dalam operasi tersebut.
Perselisihan terbaru ini terjadi di tengah masa penghentian konflik yang sebelumnya disepakati kedua negara. Iran menilai tindakan tersebut memperlihatkan belum stabilnya hubungan antara kedua pihak meski gencatan senjata masih berjalan.
Informasi mengenai dugaan serangan itu sebagaimana dilansir AFP, Jumat (08/05/2026), dan diberitakan Detikcom, Minggu (10/05/2026). Hingga berita ini diturunkan, pemerintah AS belum memberikan tanggapan resmi terkait tudingan dari Iran.
Selat Hormuz selama ini dikenal sebagai salah satu jalur pelayaran minyak paling penting di dunia. Ketegangan di kawasan tersebut dikhawatirkan dapat memengaruhi keamanan distribusi energi global serta memperburuk situasi geopolitik di Timur Tengah apabila eskalasi terus berlanjut. []
Redaksi1
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan