Sebanyak 8 hektare sawah di Desa Margomulyo, Kecamatan Rantau Pulung, terendam banjir akibat pendangkalan sungai dan kerusakan jembatan penghubung antardesa.
KUTAI TIMUR – Sebanyak 8 hektare lahan persawahan di Satuan Permukiman (SP) 2, Desa Margomulyo, Kecamatan Rantau Pulung, Kabupaten Kutai Timur (Kutim), terendam banjir sejak Jumat pekan lalu. Genangan yang tak kunjung surut itu mengancam lahan pertanian warga yang baru memasuki musim tanam awal.
Camat Rantau Pulung, Vita Nurhasanah, mengatakan kondisi tersebut diketahui setelah pemerintah kecamatan melakukan peninjauan langsung bersama Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) dan Kepala Desa (Kades) setempat. Berdasarkan hasil pengecekan, genangan air telah merendam area persawahan selama empat hingga lima hari.
Menurut Vita, durasi rendaman kali ini lebih lama dibandingkan banjir pada tahun-tahun sebelumnya. Air yang biasanya surut dalam dua hari kini tertahan lebih lama akibat pendangkalan sungai yang menjadi saluran utama pembuangan air dari area sawah.
“Biasanya, jika terjadi rendaman di lahan persawahan, dalam waktu dua hari debit air sudah mengalami penurunan dan lahan kembali kering. Namun, saat ini penurunan debit air cenderung lambat karena adanya sedimentasi atau pendangkalan di sungai yang menjadi buangan utama air sawah,”kata Camat Rantau Pulung, Vita Nurhasanah saat diwawancarai melalui sambungan telepon Senin, (25/05/2026).
Selain pendangkalan sungai, Vita menyebut hambatan aliran air juga dipicu kerusakan infrastruktur jembatan penghubung antara Desa Margomulyo atau SP 2 dan Desa Mukti Jaya atau SP 3. Gorong-gorong bundar di bawah jembatan tersebut mengalami penurunan akibat longsor sehingga dimensi saluran pembuangan air menyempit.
Kondisi itu membuat aliran air dari kawasan persawahan tidak berjalan optimal. Pemerintah kecamatan menilai penanganan cepat perlu dilakukan agar genangan tidak semakin lama merendam lahan pertanian warga.
Vita menegaskan, normalisasi sungai oleh dinas terkait menjadi langkah mendesak untuk memperlancar kembali sirkulasi air di area persawahan. Selain itu, perbaikan jembatan penghubung antardesa juga dinilai perlu dilakukan dengan peningkatan dimensi saluran agar kapasitas pembuangan air menjadi lebih besar.
“Kalau untuk saat ini yang paling urgen itu adalah di titik lokasi persawahan itu. Karena menjadi salah satu lokasi untuk ketahanan pangan yang ada di Rantau Pulung,” tegas Vita.
Meski merendam lahan pertanian, Vita memastikan banjir luapan tersebut tidak sampai masuk ke kawasan permukiman warga. Air yang melintas di area permukiman saat hujan deras biasanya hanya berlangsung sesaat dan kembali surut dalam waktu satu hingga dua jam.
Pemerintah kecamatan mencatat dampak kerugian sementara masih berkisar pada pengadaan bibit padi dan biaya tenaga kerja yang telah dikeluarkan petani. Kerugian itu dinilai belum meluas karena tanaman padi masih berada pada fase awal penanaman dan belum memasuki masa panen. []
Penulis: Butsainah Yusri | Penyunting: Nursiah
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan