Rosatom ditunjuk membangun PLTN pertama Kazakhstan di Desa Ulken, Danau Balqash, dengan fase konstruksi aktif dimulai pada 2027 dan target rampung pada 2035-2036.
MOSKOW – Korporasi negara Rusia, Rosatom, akan memulai fase aktif pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) pertama di Kazakhstan pada 2027, setelah Rusia dan Kazakhstan menandatangani deklarasi bersama penguatan kerja sama bilateral di Istana Kemerdekaan, Astana, pada Kamis (28/05/2026).
Kesepakatan itu diteken Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden Kazakhstan Kassym-Jomart Tokayev. Deklarasi tersebut memuat sejumlah prioritas kerja sama kedua negara, termasuk paket dokumen antar-pemerintah dan antar-kementerian di sektor keuangan, kesehatan, pendidikan, hingga energi.
Salah satu poin utama dalam kesepakatan itu ialah pembangunan PLTN pertama Kazakhstan di Desa Ulken, tepi Danau Balqash. Lokasi tersebut dipilih sebagai tapak utama proyek nuklir pertama di negara Asia Tengah itu.
Keputusan pembangunan PLTN Balqash disebut telah memperoleh dukungan mayoritas warga Kazakhstan melalui referendum pada 2024. Rosatom ditunjuk untuk merealisasikan proyek tersebut dengan masa pengerjaan sekitar 11 tahun dan ditargetkan rampung pada 2035 hingga 2036.
“Menurut saya, perjanjian yang ditandatangani hari ini mengenai pembangunan PLTN Balqash memiliki arti yang sangat penting. Saya menyampaikan apresiasi kepada Presiden Rusia atas dukungan pribadi dan tegasnya dalam memulai proyek besar ini. Proyek ini akan menjadi lokomotif interaksi di bidang sains, pendidikan, dan teknologi, serta memastikan pengembangan sektor-sektor terkait di bidang energi dan industri secara keseluruhan. Tentu ini terutama menyangkut Kazakhstan. Bagi negara kami, penyelesaian yang sukses atas masalah pertambangan, transportasi, pasokan energi dan listrik ke pasar domestik dan global memiliki arti yang sangat besar,” ujar Tokayev.
Rosatom dikenal sebagai salah satu korporasi dengan portofolio solusi teknologi nuklir yang terdiversifikasi di dunia. Di pasar global, korporasi ini tidak hanya berperan sebagai pemasok teknologi, tetapi juga mitra strategis dalam pembangunan infrastruktur, pelatihan personel, serta pendampingan proyek sepanjang siklus hidupnya.
Saat ini, portofolio pesanan luar negeri Rosatom mencakup lebih dari 40 unit daya berkapasitas besar dan kecil. Sebanyak 30 unit di antaranya berada pada berbagai tahap implementasi.
Dalam rangkaian perluasan kerja sama energi nuklir damai, Kepala Korporasi Negara Rosatom Alexei Likhachev juga melakukan serangkaian negosiasi di Jakarta. Indonesia, yang pada 2026 disebut menjadi anggota penuh Brazil, Russia, India, China, and South Africa (BRICS), menyatakan kesiapan membuka lembaran baru dalam pengembangan energi nuklir damai skala besar di kawasan Asia-Pasifik.
Di tengah dorongan komunitas nuklir internasional untuk melipatgandakan kapasitas nuklir hingga 2050, proyek-proyek internasional Rosatom dinilai menjadi fondasi bagi masa depan rendah karbon yang berkelanjutan bagi negara-negara berkembang. Indonesia, yang menargetkan netralitas karbon pada 2060, memandang teknologi nuklir sebagai salah satu pendorong lompatan industrial.
Pada April 2026, delegasi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Indonesia yang dipimpin Ketua BRIN Arif Satria mengunjungi PLTN Kalinin di Kota Udomlya, Oblast Tver. Dalam kunjungan itu, delegasi Indonesia mempelajari teknologi nuklir canggih Rusia, pengalaman operasional stasiun nuklir, budaya produksi Rosatom, serta pengembangan infrastruktur di kota-kota atom.
Rusia dan Indonesia memiliki sejarah panjang interaksi di bidang nuklir. Tahun 2026 menjadi penanda 20 tahun penandatanganan Perjanjian Antar-Pemerintah tentang Kerja Sama di Bidang Pemanfaatan Tenaga Nuklir untuk Tujuan Damai. Dokumen itu ditandatangani pada 1 Desember 2006 dan menjadi fondasi hubungan bilateral kedua negara di industri nuklir.
“Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Indonesia sangat menghargai pengalaman «Росатом» dan kehadiran internasionalnya. Kami siap membawa kerja sama ini ke tingkat yang baru untuk mengembangkan industri nuklir di Indonesia,” ujar Arif Satria menegaskan kesimpulan dari kunjungan tersebut, dikutip dari yugsn.ru, 26 April 2026. []
Penulis: Amy Maulana | Penyunting: Nursiah
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan