Pemkot Bontang menggelar Operasi Timbang 2026 di 125 Posyandu untuk memperkuat data pertumbuhan balita, sanitasi, dan intervensi penurunan stunting.
BONTANG – Pemerintah Kota (Pemkot) Bontang menargetkan angka stunting turun hingga satu digit melalui Operasi Timbang 2026 yang digelar di 125 Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) se-Kota Bontang pada 9–13 Juni 2026. Program ini menjadi dasar pemetaan data pertumbuhan balita sekaligus penentuan intervensi kesehatan, gizi, dan sanitasi.
Kegiatan tersebut dibuka Wali Kota Bontang Neni Moerniaeni bersama Wakil Wali Kota (Wawali) Bontang Agus Haris di Ruang Rapat Lantai II Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Bontang, sebagaimana dilansir Ppid Setda, Selasa (09/06/2026).
Operasi Timbang 2026 mencakup pemantauan berat badan, tinggi badan, imunisasi, dan perkembangan anak. Data tersebut akan digunakan sebagai dasar menentukan langkah penanganan stunting secara lebih tepat, cepat, dan terukur.
“Penanganan stunting harus dilakukan dari hulu hingga hilir. Kita tidak bisa hanya fokus pada balita, tetapi juga harus memperhatikan remaja putri, ibu hamil, kondisi sanitasi, serta lingkungan tempat anak tumbuh dan berkembang,” tegas Neni.
Neni menyoroti kawasan pesisir yang masih menghadapi persoalan sanitasi dan Buang Air Besar Sembarangan (BABS). Ia menegaskan akses air bersih dan sanitasi layak menjadi faktor penting dalam pencegahan stunting.
“Saya menginginkan konsep Sanitation for All People benar-benar terwujud di Kota Bontang. Seluruh warga harus mendapatkan akses sanitasi dan air bersih yang layak karena sanitasi merupakan salah satu faktor utama pencegahan stunting,” tambahnya.
Selain sanitasi, Pemkot Bontang juga mendorong integrasi data kesehatan, anemia, kemiskinan, dan stunting. Menurut Neni, penyatuan data lintas sektor diperlukan agar akar persoalan dapat ditemukan dan ditangani secara menyeluruh.
“Seluruh data kesehatan, anemia, kemiskinan dan stunting harus dihubungkan dalam satu analisis. Dengan begitu kita dapat mengetahui akar masalah dan menentukan intervensi yang lebih cepat, tepat dan terukur,” ujarnya memandu arah kebijakan.
Neni juga meminta pusat kesehatan masyarakat (puskesmas) terus mengawal pemberian Tablet Tambah Darah (TTD) bagi remaja putri. Langkah ini dinilai penting untuk mencegah anemia yang dapat berdampak pada kehamilan pada masa mendatang.
Dalam sesi dialog daring bersama 15 Posyandu di 15 kelurahan, Pemkot Bontang mengapresiasi berbagai inovasi kolaboratif. Inovasi tersebut meliputi Pemberian Makanan Tambahan (PMT), pembagian telur, kunjungan rumah oleh kader, dukungan tanggung jawab sosial perusahaan atau Corporate Social Responsibility (CSR), serta keterlibatan aktif rukun tetangga (RT).
Untuk memastikan kualitas pelayanan, Neni meninjau Posyandu Asoka di Bontang Baru dan Posyandu Mekar Sari di Belimbing. Pada waktu yang sama, Wawali Bontang Agus Haris meninjau Posyandu Kasih Etam di Guntung dan Posyandu Mekar Indah di Tanjung Laut Indah.
Kegiatan tersebut turut didukung Penjabat (Pj) Sekretaris Daerah (Sekda) Bontang Akhmad Suharto, Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat (Pemkesra) Dasuki, Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Bontang Nur Wahid, Ketua Tim Pembina Posyandu Nur Kalbi Agus Haris, lurah, tenaga kesehatan, Tentara Nasional Indonesia (TNI), Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri), Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK), perusahaan, serta pemangku kepentingan terkait.
Melalui Operasi Timbang 2026, Pemkot Bontang berharap intervensi penurunan stunting dapat dilakukan lebih terarah. Kolaborasi lintas sektor dinilai menjadi kunci untuk mewujudkan generasi sehat, layanan dasar yang merata, dan lingkungan tumbuh kembang anak yang lebih layak. []
Redaksi
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan