Iran menegaskan pembersihan ranjau di Selat Hormuz menjadi tanggung jawabnya sesuai kesepakatan dengan AS dan tidak memerlukan keterlibatan negara lain.
TAHERAN – Pemerintah Iran menegaskan pembersihan ranjau di Selat Hormuz akan dilaksanakan secara mandiri sesuai ketentuan dalam nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) dengan Amerika Serikat (AS). Teheran menolak keterlibatan pihak ketiga karena menilai tidak ada kebutuhan intervensi dari negara lain.
Sikap tersebut disampaikan Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei menyusul munculnya usulan agar negara lain ikut terlibat dalam proses pembersihan ranjau di jalur pelayaran strategis tersebut.
“Pembersihan ranjau di Selat Hormuz diatur oleh nota kesepahaman terkait, dan Teheran tidak melihat perlunya intervensi pihak ketiga,” kata Baghaei, sebagaimana dikutip Al Jazeera dan diberitakan Cnn Indonesia, Rabu (01/07/2026).
Dalam poin kelima MoU AS-Iran disebutkan bahwa lalu lintas kapal di Selat Hormuz akan kembali dibuka, sementara proses pembersihan ranjau menjadi tanggung jawab Iran dan ditargetkan selesai dalam waktu 30 hari.
Ketentuan tersebut memberikan hak sekaligus kewajiban kepada Iran untuk melaksanakan pembersihan ranjau tanpa campur tangan militer negara lain. MoU itu ditandatangani secara elektronik oleh Presiden AS Donald Trump dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian dari lokasi masing-masing tanpa pertemuan langsung.
Pernyataan Baghaei muncul setelah Presiden Prancis Emmanuel Macron menyatakan negaranya siap bekerja sama dengan sejumlah mitra internasional untuk mendukung pembersihan ranjau di Selat Hormuz.
“Untuk mengamankan jalur maritim dan memastikan jalur bebas dan tanpa syarat melalui Selat Hormuz,” kata Macron.
Sebelum kesepakatan AS-Iran tercapai, sejumlah negara Barat telah menyampaikan kekhawatiran terhadap keberadaan ranjau di Selat Hormuz. Beberapa negara bahkan menggelar pertemuan militer di Inggris guna membahas keamanan pelayaran di kawasan tersebut.
Selat Hormuz menjadi sorotan dunia setelah konflik antara AS, Israel, dan Iran memanas pada akhir Februari. Sebagai respons atas serangan yang diterimanya, Teheran sempat menutup jalur pelayaran strategis tersebut sebelum akhirnya tercapai kesepakatan mengenai pembukaan kembali lalu lintas kapal dan pembersihan ranjau. []
Redaksi08
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan