Direktur Kementerian Pertahanan Israel menyatakan perbedaan prioritas keamanan antara AS dan Israel menjadi penyebab kedua negara tidak lagi sepenuhnya sejalan dalam menyikapi Iran.
TEL AVIV – Perbedaan prioritas kebijakan keamanan dinilai menjadi faktor utama yang membuat Amerika Serikat (AS) dan Israel tidak lagi sepenuhnya sejalan dalam menyikapi Iran. Direktur Kementerian Pertahanan Israel, Amir Baram, menyebut kedua negara memiliki fokus strategis yang berbeda terhadap ancaman global.
Menurut Baram, Israel memandang Iran sebagai ancaman terhadap keberlangsungan negaranya, sedangkan AS menempatkan kawasan Indo-Pasifik, termasuk China dan Taiwan, sebagai prioritas utama dalam kebijakan keamanan nasional.
“Perbedaan antara kita bukanlah pada bagaimana kita memahami ancaman tersebut, tetapi pada prioritas kita bagi kita, Iran adalah ancaman eksistensial; bagi Amerika Serikat, itu adalah tantangan regional kronis, sementara Tiongkok dan kawasan Indo-Pasifik tetap menjadi perhatian utama. Kita memikirkan Teheran, mereka memikirkan Taiwan,” kata Baram, sebagaimana diberitakan CNN Indonesia, Kamis (02/07/2026).
Baram menilai kebijakan Washington tidak dapat dipahami hanya dari sudut pandang kepentingan Israel. Menurutnya, pendekatan pemerintah AS saat ini lebih menitikberatkan pada pengelolaan risiko dalam dinamika geopolitik global.
“Kita tidak boleh menilai kebijakan Amerika saat ini melalui lensa yang sempit. Apa yang sebagian orang di Israel anggap sebagai kelemahan atau kebodohan, pengabaian yang nyata terhadap setiap tanda peringatan di lapangan, dipandang di Washington sebagai manajemen risiko yang dingin, terhitung, dan jernih di era pergeseran perhatian global,” ia menambahkan.
Ia juga menyinggung pandangan Departemen Pertahanan Amerika Serikat (Pentagon) yang mempertimbangkan distribusi amunisi untuk berbagai kepentingan strategis, termasuk menghadapi potensi konflik di Selat Taiwan.
“Dari perspektif Pentagon, dengan amunisi Amerika yang terbagi antara mendukung perang saat ini dan mempersiapkan konfrontasi potensial di Selat Taiwan, perang berkepanjangan di Timur Tengah bertentangan dengan kebijakan global Amerika,” ujar Baram.
Meski mengakui adanya perbedaan kepentingan, Baram menilai hubungan kedua negara tetap memiliki dasar kerja sama yang kuat. Namun, ia mengingatkan bahwa kemitraan tersebut tidak semata bertumpu pada kesamaan nilai.
“Pada saat yang sama, berdasarkan pemahaman mendalam saya tentang berbagai pandangan dalam sistem Amerika, jika ada satu hal yang lebih dibenci orang Amerika daripada perang yang telah berlarut-larut ini bagi mereka, itu adalah kalah dalam kampanye yang telah mereka menangkan. Bagaimanapun, karena Amerika Serikat beroperasi di bawah pendekatan ‘Amerika Pertama’, kemitraan kita tidak dapat hanya didasarkan pada nilai-nilai bersama,” katanya lagi.
Pernyataan tersebut menggambarkan adanya perbedaan orientasi strategis antara AS dan Israel dalam menyikapi Iran, meskipun kedua negara tetap menjalin hubungan sebagai sekutu di bidang pertahanan dan keamanan. []
Redaksi08
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan