Drone Rp350 Juta Angkut Pekerja Kebun di Tuban Jadi Sorotan

Video pekerja perkebunan di Tuban diangkut menggunakan drone viral di media sosial, sementara pemilik perusahaan menyebut alat itu awalnya dipakai untuk mengangkut air, pupuk, bibit, dan kebutuhan pertanian di lahan sulit akses.

JAWA TIMUR – Pemanfaatan pesawat nirawak atau drone berkapasitas besar di sektor pertanian menjadi sorotan setelah video pekerja perkebunan diangkut menggunakan drone di kawasan Merakurak, Kabupaten Tuban (Tuban), Jawa Timur (Jatim), viral di media sosial.

Video tersebut diunggah melalui akun TikTok @mbahkaruhon.tiktok.com1. Dalam video itu, seorang pekerja tampak diangkat menggunakan tali yang terhubung dengan drone besar saat pulang dari lahan perkebunan menuju area parkir kendaraan yang berjarak sekitar 1,5 kilometer.

Direktur Perseroan Terbatas (PT) Bina Tani Makmur Jombang Budianto membenarkan drone dalam video tersebut merupakan milik perusahaannya. Namun, ia menegaskan orang yang diangkut bukan dirinya, melainkan kepala pekerja area.

“Bukan saya yang naik drone. Yang naik [diangkut]drone itu kepala pekerja area. Itu mitra saya,” kata Budianto saat dihubungi CNN Indonesia, Senin (06/07/2026), sebagaimana diberitakan CNN Indonesia, Senin, (06/07/2026).

Budianto menjelaskan, perusahaannya bergerak di bidang perkebunan serta jual-beli buah. Hasil panen dari usaha tersebut dipasok ke sejumlah retail modern dan pasar lokal.

Selain mengelola kebun induk sendiri, PT Bina Tani Makmur Jombang juga bekerja sama dengan sejumlah mitra tani di berbagai wilayah Jatim untuk memenuhi kebutuhan pasokan buah.

Menurut Budianto, penggunaan drone di lahan perkebunan berawal dari persoalan akses. Beberapa lahan pertanian, termasuk kawasan Merakurak, sulit dijangkau kendaraan karena tidak memiliki jalan memadai dan berada di area berlumpur dekat pantai.

“Akses jalannya ini enggak bisa [sulit dilalui dengan kendaraan], soalnya enggak ada jalan,” katanya.

Kondisi itu membuat perusahaan dan mitra tani mencari cara agar kebutuhan pertanian tetap bisa dibawa ke lokasi lahan. Mereka kemudian memilih menggunakan drone pertanian berkapasitas besar.

“Jadi solusinya gimana? Masa kita pakai helikopter. Oh, enggak mungkin. Izinnya besar. Pakai apa? Pakai drone aja. Drone pertanian yang kapasitasnya besar,” ucapnya.

Budianto menerangkan, drone itu awalnya digunakan untuk mengangkut air atau pestisida. Namun, karena memiliki kapasitas angkut hingga 150 liter air atau beban sekitar 150 kilogram, alat tersebut kemudian dimodifikasi untuk membawa pupuk, bibit, dan kebutuhan pertanian lainnya.

“Itu kan muatannya air kan bisa 150 liter air. Nah, itu kita kita modifikasi, kita copot ya, kita copot tandon airnya. Ya, kita modifikasi. Nah, nanti dikasih dikasih tampar, tali, tambang untuk ngikat pupuk atau bibit,” ujarnya.

Selain untuk mengangkut sarana produksi pertanian, Budianto menyebut penggunaan drone juga menjadi cara menarik minat pekerja muda. Menurut dia, banyak anak muda enggan mengangkut pupuk kandang secara manual meski ditawari upah tinggi.

“Anak muda itu kita tarik untuk supaya kerja di kita ini enggak bisa, Mas. Enggak mau, siapa pun enggak mau meskipun gaji tinggi, enggak mau. Tapi kalau kita fasilitasi drone. Nah, dia kan enggak megang kohe (pupuk kandang). Nah, yang megang kohe kan nanti petani-petani yang pekerja yang sudah tua, yang sudah terbiasa dengan bau kotoran itu. Lah, yang muda-muda itu kan yang bagian operator dan lain-lain gitu kan,” ucapnya.

Budianto mengatakan, harga drone berkapasitas besar itu tidak murah. Satu unitnya berkisar Rp320 juta hingga Rp350 juta.

“Drone itu yang kapasitas besar, ya sekelas [harga] Fortuner [Mobil SUV tipe Fortuner] lah,” ucapnya.

Sebelum video pekerja diangkut drone viral, Budianto mengaku pernah mengunggah konten lain yang memperlihatkan drone tersebut mengangkut pupuk dan bibit. Namun, unggahan itu tidak banyak mendapat respons.

Ia justru terkejut ketika video drone mengangkut pekerja dari lahan mendapat perhatian besar dari pengguna media sosial. Video itu ditonton jutaan kali dan dibagikan ulang ribuan kali.

“Itu sebenarnya buat konten saja. Itu sebenarnya ya iseng-iseng saja. ‘Eh, coba-coba ini angkut aku [pekerja] kuat enggak? Wah, beratmu [pekerja] kan cuman mungkin 60 kg sampai 70 kg diangkut ya bisa nyampe sana ya bisa,” ucapnya.

“Ternyata penuh, penuh komentar di situ. Waduh, lah ini TikTok ini beneran lah ini. Kok ini follower-nya banyak, komentarnya kok ribuan bahkan ini dilihat jutaan kali itu, Mas,” tambah Budianto.

Meski demikian, penggunaan drone untuk mengangkut pekerja memunculkan perhatian pada aspek keselamatan. Budianto mengaku tetap mempertimbangkan faktor keamanan, sehingga pekerja diangkut satu per satu meski kapasitas drone memungkinkan membawa beban lebih besar.

“Tapi ya kita akan mikir keamanan juga kan, Mas. Jadi satu-satu aja. Naiknya juga pelan, nurunkan juga pelan-pelan,” katanya.

Ia juga mengakui drone tersebut sebenarnya tidak diperuntukkan untuk mengangkut manusia. Karena itu, hanya pekerja yang bersedia saja yang diangkat menggunakan pesawat nirawak tersebut. Sementara petani lain tetap menuju lahan dengan berjalan kaki.

Fenomena ini menunjukkan teknologi pertanian mulai digunakan untuk menjawab persoalan akses lahan dan regenerasi pekerja. Namun, praktik pengangkutan manusia menggunakan drone tetap perlu memperhatikan standar keselamatan agar inovasi tidak berubah menjadi risiko baru di sektor pertanian. []

Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com