Wali Kota Pontianak Tegaskan Penebang Pohon Wajib Ganti Bibit

Pemkot Pontianak mewajibkan penggantian hingga 100 bibit untuk setiap penebangan pohon sembari mendorong lahan kosong menjadi ruang hijau yang produktif.

PONTIANAK – Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono mengingatkan setiap penebangan pohon yang memperoleh izin harus disertai penggantian sedikitnya 50 hingga 100 bibit. Kebijakan tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga ruang hijau di tengah keterbatasan lahan perkotaan sekaligus mempertahankan Pontianak sebagai kota yang asri dan nyaman.

Penegasan itu disampaikan Edi setelah membuka Pameran Flora dan Fauna di halaman Kolam Renang Ampera, Kota Pontianak. Kegiatan yang berlangsung pada 15 hingga 20 Juli 2026 tersebut menghadirkan tanaman hias, tanaman produktif, buah lokal, kegiatan komunitas, hingga kontes durian.

Edi mengatakan masyarakat tidak boleh menebang pohon secara sembarangan. Apabila penebangan harus dilakukan untuk membuka akses jalan atau memenuhi kebutuhan pembangunan, pelaksana kegiatan wajib menyediakan bibit pengganti dalam jumlah memadai.

“Kalaupun diizinkan, mereka harus mengganti minimal 50 sampai 100 bibit pohon pengganti,” tegasnya.

Menurut Edi, keberadaan pohon dan ruang hijau memiliki peran penting dalam membentuk lingkungan perkotaan yang sehat. Ia juga mendorong pemanfaatan lahan kosong dan tidak produktif untuk penghijauan maupun budidaya tanaman.

“Lahan-lahan kosong yang tidak produktif harus kita hijaukan,” ucapnya.

Edi menuturkan, penghijauan yang kini terlihat di sejumlah kawasan Kota Pontianak tidak terlepas dari kegiatan penanaman pohon yang dilakukan secara berkelanjutan.

“Karena saya juga hobinya menanam pohon. Hasilnya yang kita lihat sekarang, Kota Pontianak alhamdulillah hijau,” katanya.

Selain memperkuat kesadaran menjaga lingkungan, pameran tersebut diarahkan menjadi sarana promosi kekayaan hayati Kalimantan Barat (Kalbar). Momentum itu dinilai penting karena penyelenggaraan kegiatan bertepatan dengan musim panen sejumlah buah khas daerah.

“Pontianak ini sedang dibanjiri buah-buahan khas Kalimantan Barat. Rambutannya, manggisnya, langsatnya, bahkan duriannya, ini sangat luar biasa,” ujarnya sebagaimana diwartakan Prokopim Pontianak, Rabu, (15/07/2026).

Melalui pameran tersebut, petani, pelaku usaha, komunitas, pehobi, dan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) memperoleh ruang untuk memperkenalkan produk sekaligus memperluas pasar. Posisi Pontianak sebagai ibu kota provinsi juga dinilai strategis untuk mempromosikan potensi flora, fauna, dan hasil pertanian dari berbagai wilayah di Kalbar.

Edi berharap pertemuan antara pelaku usaha, petani, komunitas, dan masyarakat dapat mendorong pengelolaan kekayaan hayati secara produktif tanpa mengabaikan keberlanjutan lingkungan. Tanaman hias dan tanaman produktif juga dinilai masih dapat dikembangkan dengan memanfaatkan ruang-ruang terbatas di kawasan perkotaan.

Pemerintah Kota (Pemkot) Pontianak berencana menjadikan pameran flora dan fauna sebagai agenda tahunan. Frekuensi penyelenggaraannya bahkan dapat ditambah apabila kegiatan tersebut mendapat respons positif dari masyarakat.

“Insya Allah ini akan menjadi agenda tetap tahunan, bahkan kalau bisa setahun lebih dari satu kali,” ungkapnya.

Edi mengajak masyarakat menjadikan kecintaan terhadap flora dan fauna sebagai dasar untuk menjaga keseimbangan alam sekaligus mengembangkan potensi ekonomi daerah secara berkelanjutan.

“Mari kita galakkan cinta flora dan fauna untuk keberlangsungan kehidupan alam yang lestari,” pungkasnya.

Penguatan aturan penggantian pohon, pemanfaatan lahan kosong, dan penyelenggaraan pameran secara rutin diharapkan dapat memperluas ruang hijau, meningkatkan kepedulian masyarakat, serta membuka pasar yang lebih besar bagi petani dan pelaku UMKM di Kalbar. []

Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com