Kerusakan jalan berlumpur di jalur Mahulu–Kubar menghambat mobilitas dan distribusi barang, warga mendesak penanganan darurat segera dilakukan.
MAHAKAM ULU – Kondisi jalan penghubung di perbatasan Kabupaten Kutai Barat (Kubar) dan Mahulu kembali menuai keluhan warga akibat kerusakan parah yang menghambat mobilitas dan aktivitas ekonomi masyarakat, meski tidak dalam kondisi hujan.
Kerusakan jalan berupa lumpur tebal dan genangan air dilaporkan terjadi di sejumlah titik, terutama pada jalur dari arah Kubar menuju wilayah Mahulu. Kondisi tersebut dinilai mengganggu distribusi barang serta aktivitas harian warga yang bergantung pada akses jalan tersebut.
Salah satu pengguna jalan, Gerry, menyebut kondisi jalan seharusnya sudah dapat ditangani dengan langkah perbaikan sederhana oleh pemerintah. “Jalannya ini sebenarnya sudah ada, cuma harus ditingkatkan. Sekarang yang kita hadapi, padahal tidak ada hujan, tapi kondisinya sudah parah seperti ini,” ujarnya saat ditemui di lokasi, Selasa (14/04/2026).
Ia berharap Dinas Pekerjaan Umum (PU) dapat segera melakukan penanganan darurat di titik-titik yang mengalami kerusakan paling parah. “Kalau memang ada UPTD alat berat, bisa dikerjakan sedikit. Disapu, lalu dihambur batu. Jaraknya juga tidak terlalu jauh, harusnya bisa ditangani,” tambahnya.
Menurut Gerry, kondisi tersebut berdampak langsung terhadap kelancaran distribusi barang serta aktivitas ekonomi masyarakat. “Ini sangat menghambat perjalanan. Aktivitas ekonomi juga terganggu karena pengangkutan barang jadi susah,” tegasnya.
Keluhan serupa disampaikan pengguna jalan lainnya, Iren. Ia menilai kerusakan jalan sebenarnya telah lama diketahui, namun belum menjadi prioritas penanganan. “Sangat disayangkan, karena sudah tahu titik-titik parah di Mahulu ini. Harusnya diprioritaskan dulu untuk masyarakat,” katanya.
Iren mengusulkan penanganan awal tidak harus melalui pembangunan permanen seperti pengaspalan atau pengecoran, melainkan cukup dengan pengerasan menggunakan material agregat.
“Tidak perlu langsung disemen atau diaspal. Cukup ditimbun batu split di titik-titik tertentu. Mungkin tidak sampai tiga kilometer, tapi sudah bisa membuat jalan lebih lancar,” jelasnya.
Ia juga mengungkapkan sejumlah titik kritis berada di kawasan Gunung Es, Gunung Betuan, hingga sekitar Kampung Long Gelawang dan Sengon Panjang yang dinilai paling menghambat arus transportasi. “Kalau digabung, mungkin tidak sampai tiga kilometer. Tapi itu yang paling menghambat,” ujarnya.
Iren berharap Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kalimantan Timur (Kaltim) sebagai pihak yang bertanggung jawab atas jalan provinsi dapat segera memprioritaskan penanganan pada titik-titik rawan tersebut.
“Ini kan jalan provinsi. Harusnya bisa diprioritaskan di titik tertentu yang memang jadi kendala utama masyarakat,” katanya.
Warga berharap adanya percepatan penanganan, baik oleh Pemkab Mahulu maupun Pemprov Kaltim, agar akses transportasi kembali normal dan tidak terus menghambat aktivitas masyarakat. []
Penulis: Muhammad Jamaluddin | Penyunting: Nursiah
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan