CENTCOM menghentikan serangan tujuh malam terhadap Iran, tetapi tetap mempertahankan lebih dari 50.000 personel dan blokade pelabuhan di tengah ketegangan kawasan.
WASHINGTON – Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) mengakhiri operasi militer selama tujuh malam berturut-turut terhadap Iran pada Jumat (17/07/2026) pukul 21.30 Waktu Timur Amerika Serikat (Eastern Time/ET). Meski serangan dinyatakan selesai, lebih dari 50.000 personel militer Amerika Serikat (AS) tetap beroperasi dan disiagakan di kawasan Timur Tengah.
CENTCOM mengumumkan berakhirnya operasi tersebut melalui pernyataan di platform media sosial X. Pasukan AS selama operasi menyasar lokasi pengawasan, infrastruktur logistik militer, fasilitas penyimpanan senjata bawah tanah, serta kemampuan maritim Iran.
Serangan dilakukan dengan mengerahkan pesawat tempur, pesawat nirawak, kapal perang, dan sejumlah aset militer lainnya. Operasi itu merupakan bagian dari peningkatan konflik antara Washington dan Teheran, terutama di kawasan pesisir Iran serta sekitar Selat Hormuz.
Meskipun rangkaian serangan telah dihentikan, CENTCOM menyatakan tekanan terhadap Iran masih berlanjut. Blokade terhadap pelabuhan Iran juga disebut tetap diberlakukan.
“CENTCOM terus meminta pertanggungjawaban Iran atas arahan Panglima Tertinggi (Presiden Donald Trump) sambil sepenuhnya memberlakukan blokade terhadap pelabuhan Iran,” demikian pernyataan CENTCOM.
Kesiagaan militer AS di kawasan juga belum dikurangi. Pernyataan CENTCOM tersebut, sebagaimana diberitakan CNN Indonesia, Sabtu, (18/07/2026), menegaskan puluhan ribu personel masih berada dalam posisi siap menghadapi perkembangan keamanan berikutnya.
“Lebih dari 50.000 anggota militer Amerika beroperasi di seluruh Timur Tengah dan tetap waspada, mematikan, serta siap,” lanjutnya.
Rangkaian serangan tujuh malam itu dilancarkan setelah Teheran dituding menyerang tiga kapal komersial di Selat Hormuz. AS kemudian menggempur sejumlah wilayah Iran, terutama kawasan pesisir yang berkaitan dengan kemampuan militer dan maritim negara tersebut.
Pemerintah Iran menuduh serangan AS turut mengenai infrastruktur sipil, termasuk bandara, stasiun kereta api, dan jembatan. Teheran juga membalas dengan menyerang aset militer Washington di sejumlah negara kawasan serta mengancam akan menargetkan infrastruktur vital apabila serangan AS terus berlanjut.
Berakhirnya operasi tujuh malam belum serta-merta meredakan ketegangan karena pengerahan puluhan ribu personel dan blokade pelabuhan Iran masih dipertahankan. Perkembangan itu membuat risiko serangan balasan dan perluasan konflik di Timur Tengah tetap perlu diwaspadai. []
Redaksi
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan