Belasan pesawat militer Amerika Serikat terpantau beroperasi di sekitar Selat Hormuz bersamaan dengan serangan udara terbaru ke Iran di tengah masa gencatan senjata.
TEHERAN – Aktivitas militer Amerika Serikat (AS) di sekitar Selat Hormuz meningkat tajam setelah belasan pesawat militer, termasuk pesawat pengisian bahan bakar dan pesawat pengintai, terpantau beroperasi di kawasan tersebut bersamaan dengan serangan udara terbaru AS ke wilayah selatan Iran.
Berdasarkan data pelacakan penerbangan, sekitar 12 pesawat pengisian bahan bakar milik Angkatan Udara AS dan satu pesawat intelijen maritim P-8 Poseidon milik Angkatan Laut AS terlihat berputar di kawasan Teluk Persia dan Teluk Oman pada Rabu dini hari. Satu pesawat pengisian bahan bakar milik Angkatan Udara Uni Emirat Arab juga terpantau berada di area yang sama.
Kehadiran pesawat-pesawat tersebut bertepatan dengan berlanjutnya operasi udara AS hingga pukul 08.40 waktu Eastern Time (ET). Pesawat pengisian bahan bakar berperan menjaga jet tempur dan pesawat serang tetap berada di udara dalam waktu lebih lama tanpa harus kembali ke pangkalan untuk mengisi bahan bakar.
Sementara itu, Komando Pusat Amerika Serikat (United States Central Command/CENTCOM) menyatakan pihaknya melancarkan “serangan besar terhadap Iran untuk memberikan konsekuensi yang berat atas penargetan dan serangan terhadap kapal-kapal komersial” di Selat Hormuz dalam beberapa hari terakhir, sebagaimana diwartakan CNN Indonesia, Rabu (08/07/2026).
Operasi militer tersebut berlangsung ketika AS dan Iran masih berada dalam masa gencatan senjata setelah kedua negara menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) sebagai upaya mengakhiri konflik.
Sejumlah rekaman video yang telah diverifikasi menunjukkan ledakan dan kobaran api di Bandar Abbas, Pelabuhan Sirik, serta Pulau Qeshm. Media pemerintah Iran juga melaporkan ledakan terjadi di Pulau Kharg yang selama ini menjadi pusat utama ekspor minyak negara tersebut.
Pulau Kharg memiliki peran strategis karena menangani sekitar 90 persen ekspor minyak mentah Iran. Kondisi tersebut membuat kawasan itu menjadi salah satu aset energi terpenting bagi perekonomian Iran di tengah meningkatnya ketegangan militer di sekitar Selat Hormuz. []
Redaksi08
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan