Dari Limbah Kelapa, Pelajar SMAN 1 Tanah Grogot Ciptakan Pot Pintar IoT

Tiga pelajar SMAN 1 Tanah Grogot menciptakan Pottera, pot pintar berbasis IoT dari limbah batok kelapa yang dapat menyiram tanaman otomatis dan mendukung pelestarian bahasa Paser.

PASER – Tiga pelajar Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 1 Tanah Grogot, Kabupaten Paser, menciptakan pot tanaman pintar berbasis Internet of Things (IoT) dari limbah batok kelapa yang mampu menyiram tanaman secara otomatis ketika tanah kering.

Inovasi bernama Pottera itu mengantarkan Kamal Achmad Rafa Salaam, Aden Yaya Firdaus, dan Rahma Raudhatul Aulia meraih juara dalam lomba Stand Produk Kreatif Pemuda tingkat kabupaten pada kegiatan Pemuda Fest yang diselenggarakan Dinas Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata (Disporapar) Paser, Sabtu (23/05/2026).

Pottera dikembangkan sebagai jawaban atas persoalan keterbatasan air, cuaca panas, serta limbah batok kelapa yang banyak ditemukan di Tanah Grogot. Inovasi tersebut memadukan teknologi penyiraman otomatis, pemanfaatan limbah, dan pelestarian bahasa daerah.

“Ide inovasi ini awalnya muncul karena guru pembimbing kami suka sekali tanaman hias. Kemudian suatu hari guru kami pergi ke luar kota sehingga berpesan kepada kami untuk menyiram tanaman beliau. Akhirnya tercetuslah ide untuk membuat projek ini sehingga dengan sistem IoT tersebut dapat secara otomatis menyiram tanaman saat tanahnya kering”, ungkap Kamal saat dihubungi via telepon, Senin, (25/05/2026).

Kamal menjelaskan, Pottera bekerja menggunakan sensor kelembapan tanah yang ditanam di dalam pot. Sensor tersebut diatur untuk mendeteksi kondisi tanah kering dan mengirimkan data ke aplikasi pada telepon genggam pengguna.

Ketika tanah terdeteksi kering, sistem secara otomatis menyalakan pompa mini untuk menyiram tanaman. Sistem itu kemudian berhenti sendiri saat tanah kembali basah.

“Kalau tanah sudah basah, siramnya berhenti sendiri. Jadi nggak boros air,” jelas Aden.

Selain menghemat penggunaan air, Pottera juga dirancang dengan pendekatan budaya lokal. Aplikasi yang terhubung dengan pot pintar tersebut menggunakan tiga pilihan bahasa, yakni bahasa Inggris, bahasa Indonesia, dan bahasa Paser.

“Aplikasinya ini kita menggunakan 3 bahasa, yaitu bahasa inggris, bahasa Indonesia, dan bahasa Paser. Kenapa kami pakai bahasa Paser? Ini adalah upaya kami dalam membantu pemerintah dalam merevitalisasi bahasa Paser yang hampir punah”, jelas Rahma.

Aden mengatakan, batok kelapa dipilih karena mudah diperoleh di Tanah Grogot dan kerap menjadi limbah. Bahan tersebut biasanya hanya dibiarkan atau dimanfaatkan secara terbatas sebagai arang.

“Jadi kami mendapatkan batok kepala ini di tempat peras santan. Biasanya batok-batok ini hanya dibiarkan atau mungkin paling sering dipakai untuk menjadi arang. Jadi daripada hanya menjadi limbah, mending kami manfaatkan,” papar Aden.

Perjalanan Pottera tidak langsung berbuah kemenangan. Sebelum meraih juara pada Pemuda Fest 2026, tim tersebut sempat gagal dalam Festival Inovasi dan Kewirausahaan Siswa Indonesia (FIKSI) yang diselenggarakan Pusat Prestasi Nasional (Puspresnas).

Saat itu, mereka masih menggunakan prototipe berbahan pelepah sawit. Kegagalan tersebut kemudian menjadi bahan evaluasi hingga akhirnya mereka beralih menggunakan batok kelapa dan menambahkan sistem IoT.

Ketiganya berencana mengembangkan Pottera dalam beberapa ukuran yang lebih besar. Mereka juga menargetkan pemanfaatan limbah plastik galon agar inovasi tersebut dapat berkontribusi dalam pengurangan sampah rumah tangga.

“Jadi kami akan terus kembangkan, kami juga yakin dengan prospek kedepan, mengingat produk kami ini memanfaatkan limbah plastik, sehingga bisa menjadi solusi juga dalam mengurangi limbah plastik”, Pungkasnya.

Inovasi Pottera menunjukkan bahwa kreativitas pelajar dapat menjawab beberapa persoalan sekaligus, mulai dari efisiensi penggunaan air, pemanfaatan limbah, penguatan teknologi tepat guna, hingga pelestarian bahasa Paser. Dengan dukungan pemerintah, sekolah, dan masyarakat, karya pelajar Paser ini berpeluang dikembangkan sebagai solusi pertanian perkotaan atau urban farming berbasis lingkungan. []

Penulis: Wiwik Rahmawati | Penyunting: Nursiah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com