Festival literasi dan lomba perpustakaan di Paser diarahkan untuk meningkatkan minat baca sekaligus mendorong kesejahteraan masyarakat berbasis literasi.
PASER – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Paser melalui Dinas Perpustakaan Paser kembali menggelar festival literasi dan lomba perpustakaan sebagai upaya meningkatkan minat baca sekaligus mendorong pemberdayaan masyarakat berbasis literasi, yang dijadwalkan berlangsung pada Mei 2026.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Bidang (Kabid) Pengembangan dan Pembinaan Perpustakaan Dinas Perpustakaan Paser, Wahyuni Kesuma, menyampaikan bahwa festival literasi tahun ini menghadirkan peningkatan jumlah cabang lomba dibandingkan tahun sebelumnya.

“Festival literasi tahun ini menghadirkan tujuh jenis lomba, ada peningkatan dari tahun sebelumnya yang cuma 6 mata lomba”, papar Wahyuni saat ditemui di ruangannya, Senin (13/04/2026).
Ia menjelaskan, tujuh cabang lomba tersebut meliputi cipta dan baca puisi untuk umum mulai dari usia 16-20 tahun, pidato atau orasi tingkat sekolah menengah atas (SMA), lomba bertutur dan membaca nyaring untuk tingkat sekolah dasar (SD), menulis cerpen tingkat SMP, resensi buku tingkat SMA, serta lomba mewarnai untuk tingkat TK/RA.
Selain festival literasi, Dinas Perpustakaan Paser juga menyelenggarakan lomba perpustakaan yang menyasar institusi, meliputi perpustakaan SD, SMP, SMA, hingga perpustakaan desa. Lomba ini berfokus pada kualitas pengelolaan perpustakaan, berbeda dengan festival literasi yang berorientasi pada kemampuan individu peserta.
“Untuk indikator penilaian lomba perpustakaan didasarkan pada standar nasional dan menggunakan instrumen akreditasi. Jadi ada beberapa aspek, mulai dari jumlah kunjungan, sarana prasarana, jumlah buku, sampai keterlibatan masyarakat, misal MoU dengan karang taruna atau PKK itu juga menjadi indikator”, tambahnya.
Saat ini, setiap desa di Paser diwajibkan memiliki perpustakaan. Penyediaan koleksi buku dilakukan secara mandiri oleh desa, dengan dukungan bantuan bahan bacaan bermutu dari Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas).
Wahyuni menuturkan, perpustakaan desa merupakan bagian dari transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial, yang tidak hanya berfungsi sebagai tempat membaca, tetapi juga menjadi sarana pengembangan keterampilan masyarakat.
“Jadi menekankan pada bagaimana dengan membaca mereka bisa melakukan sesuatu yang mensejahterakan kehidupan mereka. Misal, membaca resep masakan, kemudian mempraktikkan lalu menjual masakan tersebut”, imbuhnya.
Meski masih menghadapi tantangan dalam mengubah pola pikir masyarakat terkait pentingnya perpustakaan, Dinas Perpustakaan Paser terus mengembangkan program pembinaan dan implementasi literasi inklusi sosial.
“Program lomba perpustakaan ini juga baru kita laksanakan tahun 2025 bersamaan dengan program pembinaan. Namun untuk beberapa Perpustakaan desa sudah ada yang terakreditasi dan berprestasi, seperti perpustakaan desa sungai terik, pernah juara tingkat provinsi, kemudian ada perpustakaan desa Songak, Paser Belengkong, dan Keluang Paser Jaya (KPJ)”, pungkasnya.
Melalui berbagai program tersebut, Pemkab Paser menargetkan perpustakaan tidak hanya menjadi pusat pembelajaran, tetapi juga mampu mendorong peningkatan kesejahteraan masyarakat melalui pemanfaatan literasi secara produktif. []
Penulis: Wiwik Rahmawati | Penyunting: Nursiah
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan