Diskusi panel di Paser menekankan pentingnya pendidikan demokrasi, meritokrasi, literasi digital, dan integritas kepemimpinan pelajar sejak lingkungan sekolah.
PASER – Diseminasi publik dan diskusi panel bertajuk “Pendidikan Demokrasi, Meritokrasi, dan Integritas Kepemimpinan Pelajar di Lingkungan Sekolah” digelar di Kabupaten Paser, Selasa (02/06/2026). Kegiatan ini mendorong penguatan literasi demokrasi di kalangan pelajar agar mampu menjadi pemilih pemula yang rasional, kritis, dan berintegritas.
Kegiatan tersebut diinisiasi Muhamad Nur Siddiq, fasilitator program SPEAK Justice. Ia menilai masih terdapat kesenjangan antara teori dan praktik demokrasi di lingkungan sekolah. Kondisi itu dikhawatirkan melahirkan pemilih pemula yang apatis atau pragmatis jika tidak segera direspons melalui pendidikan demokrasi yang lebih konkret.

Diskusi tersebut menghadirkan sejumlah narasumber lintas sektor, yakni Ketua Divisi Hukum Komisi Pemilihan Umum (KPU) Paser Nur Dina Camelia, pakar Pendidikan Kewarganegaraan Kwartanti Fajriatin, serta dosen Ilmu Politik Safarina Nur Effendi.
Menurut Muhamad Nur Siddiq, meski para pelajar memahami pentingnya integritas, pemilihan Ketua Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) masih kerap didominasi popularitas dan tekanan kelompok pertemanan. Akibatnya, ruang adu gagasan di lingkungan sekolah belum berjalan optimal.
“Demokrasi yang kuat membutuhkan pemilih yang cerdas, dan pemilih yang cerdas dibentuk dari bangku sekolah. Jika standar meritokrasi dikesampingkan sejak dini, kita akan mewajarkan lahirnya kepemimpinan yang minim kompetensi di masa depan.” ungkapnya.
Sementara itu, Nur Dina Camelia menekankan pentingnya mempersiapkan Generasi Z (Gen Z) sebagai pemilih pemula yang rasional. Ia mendorong penguatan literasi digital agar pelajar mampu menangkal hoaks dan berpikir kritis sehingga tidak terjebak dalam politik pragmatis.
“Penting untuk mempersiapkan Gen-Z agar lebih rasional dan berfikir kritis, sehingga mampu menangkal hoaks dan tidak terjebak politik pragmatis”, imbuh Dina.
Dari aspek akademik, Kwartanti Fajriatin memaparkan pentingnya revitalisasi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) secara autentik. Menurut dia, sekolah tidak cukup hanya mengajarkan demokrasi sebagai teori, tetapi juga harus menghadirkannya melalui praktik organisasi yang sehat.
“Sekolah harus benar-benar berfungsi sebagai laboratorium demokrasi tempat nilai-nilai meritokrasi dan integritas diuji melalui praktik berorganisasi yang sehat, bukan sekadar hafalan teori.” tegasnya.
Safarina Nur Effendi turut menyoroti tantangan regenerasi kepemimpinan muda di era digital, khususnya di Kalimantan Timur (Kaltim) yang tengah menyongsong transisi Ibu Kota Nusantara (IKN). Ia menegaskan, OSIS perlu diperkuat sebagai ruang kaderisasi yang mengedepankan kapasitas, integritas, dan rekam jejak gagasan.
“OSIS harus diperkuat dengan kapasitas dan rekam jejak gagasan, bukan hanya mengedepankan popularitas dan ikatan pragmatis kelompok semata”, tambahnya.
Melalui kegiatan ini, pendidikan demokrasi di lingkungan sekolah diharapkan tidak berhenti pada pemahaman konseptual, tetapi berkembang menjadi praktik kepemimpinan yang sehat. Kegiatan tersebut juga diharapkan melahirkan komitmen bersama di Paser untuk menumbuhkan nalar kritis demokrasi pemuda sejak dini. []
Penulis: Wiwik Rahmawati | Penyunting: Nursiah
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan