Garuda Indonesia mencatat penurunan kerugian signifikan pada kuartal I 2026 sebagai tanda awal perbaikan kinerja keuangan.
JAKARTA – PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA) mencatat perbaikan kinerja keuangan pada kuartal I 2026 dengan berhasil memangkas kerugian secara signifikan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Meski masih berada dalam posisi rugi, penurunan beban kerugian ini dinilai menjadi sinyal awal pemulihan maskapai pelat merah tersebut di tengah tekanan industri penerbangan global.
Perbaikan kinerja tersebut tercermin dalam laporan keuangan perseroan yang menunjukkan rugi bersih sebesar 46,48 juta dolar Amerika Serikat (AS) atau sekitar Rp803,4 miliar (asumsi kurs Rp17.285 per dolar AS). Angka itu turun tajam dibandingkan rugi bersih pada periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai 76,49 juta dolar AS atau sekitar Rp1,3 triliun.
“Penurunan kerugian tersebut mencerminkan adanya penguatan efisiensi operasional dan penyesuaian strategi bisnis di tengah kondisi industri yang masih menantang,” demikian keterangan resmi perusahaan sebagaimana dilansir Sumber Berita, Jumat, (24/04/2026).
Penurunan kerugian ini terjadi di tengah upaya restrukturisasi dan optimalisasi operasional yang terus dilakukan Garuda Indonesia untuk menjaga keberlanjutan bisnis. Perusahaan juga disebut masih fokus pada peningkatan okupansi penumpang serta pengendalian biaya operasional sebagai langkah utama pemulihan kinerja.
Meski belum kembali mencetak laba, tren perbaikan ini memberikan ruang optimisme bagi pemulihan kinerja Garuda Indonesia ke depan, terutama jika stabilitas industri penerbangan dan permintaan perjalanan udara terus membaik. []
Redaksi1
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan